Sinyal Perubahan Arah Koalisi PAN dan Kode dari Jokowi
logo

8 Agustus 2018

Sinyal Perubahan Arah Koalisi PAN dan Kode dari Jokowi

Sinyal Perubahan Arah Koalisi PAN dan Kode dari Jokowi


GELORA.CO -  Dua hari jelang penutupan masa pendaftaran pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) di KPU, eskalasi politik menuju Pilpres 2019 bergulir dengan capat. Perubahan konstelasi koalisi parpol pun mulai menunjukkan tanda-tandanya.

Partai Amanat Nasional (PAN) yang selama ini identik dengan koalisi pendukung capres Prabowo Subianto mengakui adanya kebuntuan dalam pembahasan cawapres di antara koalis parpol. PKS menyorongkan Salim Segaf Al-Jufri, Demokrat menyodorkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sementara PAN sendiri memiliki kandidat yakni Zulkifli Hasan.

Meski baru belakangan bergabung dengan koalisi pendukung Prabowo, AHY malah punya peluang besar dipilih Prabowo menjadi cawapres. Secara hitung-hitungan politik, cawapres yang diusung PKS dan PAN bisa dibilang 'kalah kelas'.

Berdasarkan raihan kursi DPR, Demokrat paling tinggi dengan 62 kursi (10,19 persen), sementara PAN memiliki 46 kursi (7,6 persen) dan PKS punya 40 kursi (6,7 persen). Elektabilitas AHY berdasarkan survei terakhir Median juga yang tertinggi di angka 7,3 persen. Adapun, cawapres PAN, Zulkifli Hasan elektabilitasnya 1,7 persen dan Salim Segaf dari PKS hanya 0,2 persen.

Ketua DPP PAN Yandri Susanto, Selasa (7/8), menyebut syarat sebagai jalan tengah dari kebuntuan pembahasan cawapres untuk Prabowo. "Insya allah ke Prabowo, kalau dari peta yang ada. Tapi sekali lagi ada syaratnya, kita tetap mendorong Bang Zul (Zulkifli Hasan), kalau tidak itu, kita tetap minta tetap ke Pak Prabowo tidak ambil partai lain," ujar Yandri.

Yandri menegaskan, partainya tidak setuju Prabowo mengambil nama-nama dari partai, jika tidak memilih Zulkifli Hasan. "Kalau Pak prabowo ambil Salim Segaf misalnya, ya kami tidak setuju, atau ngambil AHY pasti kami tidak setuju," ujar Yandri.

Yandri mengungkap partainya lebih menginginkan agar Prabowo memilih Ustaz Abdul Somad sebagai cawapres. Nama Somad sebagai jalan tengah dari nama-nama cawapres dari parpol.

"Itu sudah hampir pendapat umum dari seluruh provinsi (DPW). Kita sekarang lagi mengkomunikasikan Abdul Somad, jalan tengahnya. Saya yakin kalau UAS mau, partai-partai yang lain bisa menerima. Itu sebagai jalan tengah," katanya.

Namun, kemungkinan besar Somad tidak akan dipilih Prabowo sebagai cawapres. Petinggi Gerindra, pada Selasa (7/8) malam telah mengonfirmasi bahwa Prabowo telah menerima pesan langsung dari Somad bahwa sang ulama tetap teguh dalam pendiriannya di jalan dakwah.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan juga menyarankan Prabowo tidak memilih cawapres dari wakil parpol. Menurutnya, hal itu sebagai jalan tengah untuk mencari cawapres yang diterima oleh semua partai politik pengusung Prabowo.

"Mungkin jalan tengah dicari yang bisa memperkuat kandidat tapi tidak berparpol. Itu kan perlu waktu," ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (7/8).

Zulkifli menyebut jika cawapres berasal dari parpol, masing-masing partai bersikukuh mendorong kadernya untuk posisi cawapres, termasuk juga PAN. "Baik partai itu bukan tidak menarik dan itu menarik. Tapi kan di partai itu ada egonya ya. Kalau partai ini yang ini maunya, kalau kita kan ini juga enggak mau," kata Zulkifli.

Karenanya, saat ini PAN juga tidak 'ngotot' agar kader PAN menjadi cawapres. Prabowo sendiri, kemungkinan akan memutuskan siapa bakal cawapres pada Rabu (8/8).

"Ya tentu karena kalau kita ngotot kan yang lain juga ngotot ya. Kalau ngotot semua bagimana kan wakilnya cuma satu," ujarnya. [rol]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...