logo

5 Agustus 2018

Rachland Nashidik: Jokowi Mungkin Presiden Pertama yang Menyerukan Jangan Takut Berkelahi Fisik

Rachland Nashidik: Jokowi Mungkin Presiden Pertama yang Menyerukan Jangan Takut Berkelahi Fisik


GELORA.CO - Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Rachland Nashidik turut angkat bicara mengenai pidato Jokowi yang memberikan arahan kepada para relawannya untuk siap "berkelahi" jika diajak oleh lawan politik.

Dilansir TribunWow.com, hal tersebut ia sampaikan melalui akun Twitter ‏@RachlanNashidik yang diunggah pada Sabtu (4/8/2018).

"Dalam sejarah Republik ini, @Jokowi mungkin Presiden pertama yang menyerukan jangan takut berkelahi fisik.

Konteksnya bukan imprealisme atau kolonialisme.

Tapi Pemilihan Presiden 2019.

Melawan pendukung paslon lain yang notabene bangsanya sendiri.

Sekerdil itu," kata Rachland Nashidik.

Postingan Rachland Nashidik

Diberitakan Kompas.com, dalam pidato arahannya, Jokowi meminta relawan tidak takut jika mendapat serangan dari para lawan politik.

"Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani," kata Jokowi.

Meski demikian, Jokowi meminta agar para relawannya tidak mengajak 'berkelahi' terlebih dahulu.

"Tapi jangan ngajak (berantem) loh. Saya bilang tadi, tolong digarisbawahi. Jangan ngajak. Kalau diajak, tidak boleh takut," imbuh Jokowi.

Jokowi menyampaikan arahan tersebut dalam acara rapat umum relawan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, pada Sabtu (4/8/2018).

Sementara itu, seorang relawan, mengaku siap menjalankan arahan dari Jokowi tersebut.

"Tentu saja jika kita diajak berkelahi kita tidak akan menghindari. Kita adalah petarung-petarung," kata Ketua Umum kelompok relawan Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi.

Budi mengatakan apabila para relawan siap untuk turun ke bawah dan mensosialisasikan program-program pemerintah kepada masyarakat.

Terutama soal keberhasilan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur.

"Karena pencapaian yang telah dilaksanakan yang tidak tersosialisasi dengan baik. Kita percaya penyampaian langsung melalui door to door lebih efektif," ungkapnya. [tribun]

Loading...
loading...