logo

4 Agustus 2018

Hurairah, Juara Dunia Hapkido dari Aceh, Tak Punya Biaya untuk Kuliah

Hurairah, Juara Dunia Hapkido dari Aceh, Tak Punya Biaya untuk Kuliah


GELORA.CO - Atlet hapkido peraih juara dunia World Hapkido Martial Arts Federation (WHMAF) di Seoul, Korea Selatan, Hurairah (21), terpaksa mengubur mimpinya menjadi seorang sarjana. Meski sejumlah prestasi telah diukir, namun kedua orang tuanya tidak memiliki biaya untuk menyekolahkannya ke perguruan tinggi.

Karena keterbatasan ekonomi, Hurairah tidak bisa merasakan status mahasiswa seperti teman-temannya yang lain. Usai menamatkan sekolah di MAN pada 2015 lalu, Hurairah sempat menyampaikan keinginannya untuk kuliah, namun ayahnya tidak sanggup membiayai.

“Saya ingin sekali kuliah di jurusan olahraga. Tapi ayah tidak punya biaya,” ujarnya ketika ditemui kumparan di kediamannya, Jumat (3/8).

Menyadari dirinya tak bisa melanjutkan pendidikan, Hurairah kemudian ikut membantu kedua orang tuanya bekerja. Sementara sore harinya ia berlatih hapkido -- bela diri asal Korea -- di UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan menempuh 1 jam perjalanan dari rumah menggunakan sepeda motor milik teman sekampung.


“Tidak ada kegiatan apa-apa, hanya bantu orang tua bekerja. Kuliah ingin sekali di jurusan olahraga, tapi lantaran tidak ada biaya niat itu saya abaikan. Ya, karena memang tidak mampu,” kata Hurairah.

Pemuda Desa Lamtanjong, Kecamatan Sibreh, Aceh Besar, ini berharap prestasinya sebagai atlet hapkido terbaik se-Asia Tenggara dapat membantu kehidupan keluarganya.

“Cita-cita semua orang ingin ada pekerjaan karena saya tidak mau memberatkan orang tua dan ingin sekali menjadi tulang punggung mereka. Berharap dengan menjadi atlet ini memiliki harapan untuk perubahan itu,” ungkap Hurairah.

Keluarga Hurairah merupakan warga kurang mampu di Desa Lamtanjong, rumah yang ditempati adalah bantuan Baitul Mal berukuran 6 x 6 meter dan memiliki 2 kamar. Ayahnya M Harun (50) bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Lambaro, Aceh Besar. Sementara sang ibu Nurhayati (40) berjualan gorengan di bawah gubuk kecil, di persimpangan jalan tak jauh dari rumahnya.


Perjalanan Hurairah menjadi seorang atlet hapkido berawal dari olahraga taekwondo yang ia tekuni sejak masih duduk di bangku SMP hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Aceh Besar. Sejak saat itu hingga kini ia telah mengumpulkan lima mendali emas dan satu perak. Semua penghargaan itu tersimpan rapi dalam kotak besi seperti kotak amal.

“Karena lemari tidak ada, makanya kami simpan di dalam kotak ini biar tidak rusak,” kata Nurhayati.

Kedua orang tua Hurairah mengaku bangga atas prestasi yang diraih anak sulungnya itu. Meski demikian, di balik kesenangan tersebut mereka menyimpan kesedihan lantaran faktor ekonomi untuk biaya hidup, Nurhayati medukung penuh bakat sang anak.

“Seperti apa kemauan dia kami setuju dan mendukung. Karena untuk kuliah memang tidak ada biaya. Jadi kami mendukung penuh apa yang digeluti saat ini asalkan itu positif,” ucap Nurhayati.

Penghargaan diperoleh Hurairah hanyalah medali. Ia tidak pernah mendapatkan bonus maupun uang pembinaan bahkan bantuan dari pemerintah setempat. “Tidak pernah dapat apa-apa baik bonus maupun uang saku. Yang saya bawa pulang ke rumah hanyalah medali,” tutur Hurairah.

Hurairah mengaku masih menyimpan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan. Dia berharap dengan menjadi seorang atlet profesional dapat memperbaiki ekonomi keluarga serta membiayai sekolah adiknya, serta mengukir masa depan yang cerah.

Begitu juga harapan kedua orang tuanya. Mereka berharap prestasi yang telah diberikan sang anak untuk bangsa dan negara mendapat perhatian dari pemerintah.

“Kami tidak minta apa-apa. Berharap ada perhatian untuk Hurairah, setidaknya membantu agar dia bisa kuliah demi masa depannya,” ucap Harun. [kumparan]

Loading...
loading...