logo

13 Juli 2018

SBY-Prabowo Diadu Domba Agar Tidak Berkoalisi

SBY-Prabowo Diadu Domba Agar Tidak Berkoalisi


GELORA.CO - Jelang Pilpres 2019 fitnah dan informasi hoax bertebaran. Fitnah yang disebar melalui akun-akun anonim di media sosial itu antara lain mengadu domba Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Akun-akun anonim itu selalu menebar fitnah tentang SBY dan Prabowo. Ada upaya untuk mengadudomba kedua tokoh ini. Kasihan rakyat disuguhi kebohongan yang akhirnya rakyat melihat SBY sebagai orang yang jahat,  mengkhianati Prabowo. Padahal kan tidak seperti itu,” kata Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean kepada Harian Terbit di Jakarta, Kamis (12/7/2018). 

Ferdinand menduga, akun anonim itu terafiliasi dengan penguasa karena tujuannya jelas agar Demokrat rusak dan tidak berkoalisi dengan Gerindra. “Upaya adu domba ini tidak akan berhasil,” kata Ferdinand. 

Menanggapi pernyataan Ferdinand itu, pengamat kebijakan publik dari Institute For Strategic and Development Studies (ISDS), M Aminudin mengatakan, ada kepentingan besar yang sedang dimainkan sehingga dibuat upaya adu domba antara SBY-Prabowo. Apalagi kekuatan Gerindra, PKS, Demokrat dan PAN yang ditambah sentimen perubahan dari pemilih adalah kekuatan besar yang dengan mudah menumbangkan Jokowi, sang petahana Pilpres 2019.

"Kekuatan status quo menyadari sehingga mereka jalankan pecah belah atau adu domba di antara parpol dan pemilih," ujar Aminudin kepada Harian Terbit, Kamis (12/7/2018).

Terkait  adanya gerakan ganti Presiden, sambung Aminudin, maka berbagai upaya diciptakan agar gerakan ganti presiden tidak semakin besar dan masif. Upaya tersebut dicaptakan karena Jokowi yang sedang berkuasa sedang mengalami krisis legitimasi di masyarakat. Karena hari ini siapa yang lawan Jokowi asal satu lawan satu maka berpeluang untuk menang.

Sementara itu pengamat politik Indonesia Public Institute (IPI) Jerry Massie mengemuakan, hal biasa politik adu domba di negeri ini kerap dimainkan. Yakni kawan jadi lawan. Ini merupakan gaya politik Belanda devide et impera adalah perpaduan strategi politik, militer dan ekonomi. Tujuan ala politik ini tak lain untuk menjaga dan meraih kekuasaan. Tapi cara yang mereka lakukan negatif. Gaya politik tersebut akan sampai ke negative campaign.

"Memecah belah adalah bagian konspirasi politik mereka. Ada ketakutan  kelompok besar terhadap kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat,menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan," paparnya.

Dalam konteks lain, sambung Jerry,kekuatan Gerindra (73 kursi atau 13 persen)- Demokrat 10,9 persen (60 kursi). Oleh karena itu adu domba adalah strategi lawan politik untuk melemahkan lawannya dengan isu yang dikenal word of mouth politik. 

Menurutnya, gaya seperti itu tak akan pernah hilang. Di negara besar saja seperti AS terjadi. Serangan terhadap Hillay Clinton yang diusung Demokrat pada President election lewat 33 ribu email. Begitu pula Donald Trump di adu domba lewat aspek moral.

"Maka akan muncul perang tagar; perang lewat media online, medsos mengangkat isu masa lalu dari seorang bahkan akan sampai pada isu human right," jelasnya.  [htc]

Loading...
loading...