Polemik Presidential Threshold: Riza Patria dan Adian Napitupulu Debat soal 'Arogansi Kekuasaan'
logo

6 Juli 2018

Polemik Presidential Threshold: Riza Patria dan Adian Napitupulu Debat soal 'Arogansi Kekuasaan'

Polemik Presidential Threshold: Riza Patria dan Adian Napitupulu Debat soal 'Arogansi Kekuasaan'


GELORA.CO - Politikus Partai Gerindra Riza Patria yang juga duduk di kursi dewan terlibat adu mulut dengan politisi PDIP Adian Napitupulu.

Dilansir TribunWow.com, hal tersebut tampak dari acara Mata Najwa yang diunggah oleh akun YouTube @Najwa Shihab pada Rabu (4/7/2018).

Kedua politisi tersebut saling berdebat mengenai ambang batas pencalonan presiden, presidential threshold 20 persen yang saat ini sedang didugat oleh sejumlah pihak.

Dalam awal video, terdapat segmen dari perwakilan kubu pro dan kontra untuk menyampaikan argumentasi mereka.

Untuk kubu pro ambang batas, ada Rambe Kamarul Zaman yang berasal dari Partai Golkar.

Dalam argumentasinya, Rambe menyatakan 20 persen jumlah kursi sebenarnya sudah dinyatakan dalam undang-undang.

"DPR sebagai pembuat UU sudah bersepakat bahwa harus ada dukungan parpol. Putusan MK mengatakan ambang batas menguatkan sistem presidensil," ucapnya.

Sementara itu, dari kubu kontra, ada A Riza Patria dari Partai Gerindra.

Patria mengatakan jika Indonesia menjadi negara demokrasi ketiga terbesar di dunia.

Ia pun menyatakan jika presiden haruslah orang yang terbaik.

Dengan adanya presidential threshold ini Patria mengungkapkan hak-hak rakyat dirampas.

Ia juga menambahkan jika presidential threshold ini merupakan bentuk arogansi dari kekuasaan.

"Biarkan rakyat menunjukkan kedaulatan sejatinya untuk memilih presiden. Bukan partai politik atau penguasa yang menentukan pemimpin bangsa, tapi rakyat. Jadi ambang batas ini merenggut hak itu," ungkapnya.

Sebagai pamungkas, ia meminta agar presidential threshold dihapus.

Setelah dua kubu menyampaikan argumentasinya, mereka masuk dalam diskusi.

Dalam kesempatan itu, kedua kubu saling membantah, menguatkan argumentasi, dan menjegal omongan lawan.

Pembahasan semakin memanas ketika politisi Adian Napitupulu dan Rocky Gerung saling adu argumen.

Adian Napitupulu meminta pihak-pihak yang menggugat PT 20 persen ke MK seperti Rocky Gerung untuk siap-siap kalah karena sudah sering diajukan gugatan.

Menanggapi hal itu, Rocky Gerung langsung tersenyum dan siap memberikan bantahan.

Rocky Gerung pun menyampaikan argumentasi mengenai syarat-syarat pemilihan presiden.

Di mana syarat seperti PT 20 persen saat ini justru merupakan upaya menggerogoti syarat-syarat yang lainnya.

Patria pun menambahkan jika hal itu termasuk arogansi kekuasaan.

Mendengar hal itu, Adian Napitupulu langsung memotong dan menanyakan maksud omongan Patria.

Ia bahkan dengan tegas meminta Rocky Gerung untuk tidak ikut campur menjawab karena ia bertanya pada Patria bukan Rocky.

Keduanya sampai saling tunjuk dan adu mulut hingga suasana riuh dan Najwa berusaha menengahi.

Setelah situasi tenang, Patria menjelaskan omongannya.

Mendengar penjelasan Patria mengenai arogansi kekuasaan, Adian langsung meminta politisi Gerindra itu membuka kamus usai melontarkan kata pemaksaan terhadap partai politik yang kecil.

"Ada pemaksaan buktinya apa? Bahwa kemudian pemerintah melakukan sebuah rancangan dan dia mempertahankan argumentasinya, itu bukan pemaksaan.

Sama seperti Bung sebagai DPR boleh mempertahankan argumentasi, kalau mempertahankan argumentasi dengan sekuat-kuatnya disebut pemaksaan, menurut saya baca lagi kamus arti pemaksaan itu seperti apa!," ucap Adian.

Simak selengkapnya dalam video di bawah ini.


Loading...

Komentar Pembaca

loading...