KM Lestari Maju Tenggelam, Ahli Transportasi Sebut Kondisi Kapal di Indonesia Memprihatinkan
logo

5 Juli 2018

KM Lestari Maju Tenggelam, Ahli Transportasi Sebut Kondisi Kapal di Indonesia Memprihatinkan

KM Lestari Maju Tenggelam, Ahli Transportasi Sebut Kondisi Kapal di Indonesia Memprihatinkan


GELORA.CO - Ahli transportasi utama Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Ajiph Razifwan Anwar angkat bicara soal tenggelamnya KM Lestari Maju di perairan Selayar pada sekitar pukul 14.30 WITA, Selasa (3/7/2018).

Hal itu disampaikan Ajiph dari tayangan MetroTv News yang diunggah di akun YouTube, pada Rabu (5/7/2018).

Ajiph menilai kondisi kapal-kapal yang digunakan sebagai transportasi penyeberangan memiliki kondisi yang kurang memadai.

Lebih lanjut, dirinya mendesak agar kapal-kapal di Indonesia yang sudah tua agar segera diperbaiki dan dilakukan pemeliharaan intensif.

"Ini yang menjadi keprihatinan kita. Banyak kapal di Indonesia dalam kondisinya yang sudah cukup tua dan perlu diperbaiki atau butuh pemeliharaan yang intensif untuk mencegah kejadian," ujar Ajiph.

Di samping itu, Ajiph mengatakan kecelakaan kapal di Indonesia disebabkan beberapa faktor.

Beberapa diantaranya seperti saling bertabrakan, faktor cuaca, hingga ketidakmampuan nakhoda saat kapal bermanuver di perairan dangkal.

"Tapi persoalan utama dari banyaknya peristiwa kecelakaan di perairan disebabkan oleh armada kapal yang kondisinya tidak memadai untuk melakukan pelayaran," imbuhnya.

Untuk itu, Ajiph mengatakan pentingnya pemilik kapal mentaati hukum keselamatan internasional, dan itu harus dimulai dari anak buah kapal (ABK).

"Di sinilah pentingnya pemilik kapal melakukan dan menaati kode manajemen keselamatan internasional. Dia harus mematuhi kode etiknya, ini harus dibangun dari perusahaan pelayaran terutama ABK," katanya.

Saat disinggung soal KM Lestari Maju, Ajiph menguraikan bahwa, aturan keselamatan dari sisi armada sudah cukup lengkap.

"Soal izin berlayar, data jumlah penumpang, dan angkutan barang di dalamnya sudah ada."

Pengamat transportasi itu menduga ada indikasi kesalahan pada sisi operator yang tidak menyediakan fasilitas penunjang keselamatan, seperti ketersediaan jaket pelampung yang cukup untuk seluruh penumpang.

"Bisa dipertanyakan apakah sumber daya manusianya terlatih untuk menegakkan aturan itu. Kalau memang kurang jelas, maka potensi kelalaian bisa terjadi," tandasnya.

Simak video selengkapnya dibawah ini:


Menurut laporan yang disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, ada 189 korban yang telah dievakuasi.

Hingga berita ini diterbitkan, proses pencarian korban terus dilakukan dan 34 orang dinyatakan meninggal dunia.


Loading...
loading...