Jadi Mualaf, Kepala Suku Asal Afrika Ini Hadiri Pertemuan Ulama di Jakarta
logo

5 Juli 2018

Jadi Mualaf, Kepala Suku Asal Afrika Ini Hadiri Pertemuan Ulama di Jakarta

Jadi Mualaf, Kepala Suku Asal Afrika Ini Hadiri Pertemuan Ulama di Jakarta


GELORA.CO - Sejak awal dimulainya Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke-V di Hotel Grand Cempaka, Jakarta pada Selasa (03/07/2018), sosok pria berkulit gelap dan berpakaian unik mencuri perhatian banyak orang.

Bagaimana tidak? Tak seperti tamu umumnya yang mengenakan jubah, sorban dan baju koko yang diserasikan dengan peci ataupun songkok nasional khas Indonesia. Pria itu, justru tampil dengan pakaian terang berbalut kain bermotif yang diikat di pinggangnya, menutupi kaki serta selalu membawa tongkat panjang bercabang dengan menyandang kayu yang diujungnya menempel patung kecil berbentuk macan. Bahkan nama yang ia gunakan adalah gelar kebesaran yaitu Thoyigbe Zola.

Setiap selesai sesi acara, Thoyigbe selalu dikerumuni orang-orang yang ingin berkenalan atau sekedar foto bersama. Usut punya usut, Thoyigbe berpakaian seperti itu bukan tanpa alasan. Melainkan karena dirinya merupakan seorang kepala suku di Negara Benin, Afrika.

“Tongkat yang disandang di pundak adalah bukti bahwa saya adalah raja. Sedangkan tongkat panjang bercabang digunakan untuk memerintah dan penutup kepala dengan tiga pucuk adalah tanda kebesaran. Tidak ada satupun orang yang boleh memakai pakaian seperti ini kecuali saya,” ungkapnya saat diwawancarai Kiblat.net.

Selain itu, Thoyigbe rupanya adalah seorang mualaf dan baru saja memeluk Islam menjelang bulan Ramadhan lalu. Di sela-sela acara, Syaikh Khalid Al Hamudi Ketua Al Manarah Al Islamiyah memberi kesempatan untuk Thoyige berbicara di hadapan hadirin.

Melalui seorang penerjemah Thoyigbe mengungkapkan kebahagiaannya dapat bertemu ulama dan dai dari mancanegara. Ia merasa hangat, seakan-akan telah saling-kenal satu sama lain.

“Saya sangat senang sekali karena tidak pernah membayangkan keadaan seperti ini,” ungkap Thoyigbe.

Syaikh Khalid Al Hamudi juga turut bercerita bahwa Thoyigbe adalah kepala suku dengan wilayah yang luas. Kampungnya dikelilingi oleh aliran air. Namun proses keislaman Thoyigbe tidaklah mudah. Lebih dari 10 tahun, Thoyigbe didakwahi oleh seorang ulama setempat bernama Syaikh Abu Bakar.

Sulitnya menerima Islam karena cerita-cerita miring yang diterima Thoyigbe. Cerita-cerita itu lantas membuatnya sangat lantang menolak Islam. Namun setelah memeluk Islam, Thoyigbe tidak menemukan cerita miring itu. Ia menyakini bahwa itu semua adalah fitnah terhadap agama Islam.

“Banyak orang-orang yang memfitnah Islam. Padahal fitnah itu tidak terbukti sedikitpun,” sambungnya.

Di kesempatan itu pula, Thoyigbe mengumumkan nama barunya menjadi Harun Muhammad. Ia lalu mendapatkan sambutan dari para hadirin. Kini ia berjanji akan menyebarkan Islam kepada kaumnya. Harun pun berterimakasih kepada Syaikh Khalid Al Hamudi yang memberikan kesempatan berbicara dan kepada Indonesia yang telah menyambutnya dengan sangat baik.

“Terima kasih bangsa Indonesia karena menyambut mereka (dai dan ulama mancanegara) dengan sangat baik,” ungkapnya. [kn]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...