logo

10 Juni 2018

Terkait Rencana Penurunan HET Beras, Fadli Zon: Itu Jahat Sekali, Tidak Fair

Terkait Rencana Penurunan HET Beras, Fadli Zon: Itu Jahat Sekali, Tidak Fair


www.gelora.co – Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon menuliskan cuitannya terkait Himpunan Kerukunan Tani Indonesia yang menolak rencana pemerintah untuk menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras.

Dilansir TribunWow.com melalui akun Twitternya, hal itu dikatakannya saat melantik pengurus DPD HKTI Kalimantan Tengah, Jumat (8/6/2018).

Fadli Zon memastikan bahwa kebijakan tersebut akan merugikan petani.

Dikatakannya, penurunan HET beras akan berdampak langsung pada harga gabah.

Padahal, kata Fadli Zon, harga gabah sudah sangat rendah pasca panen raya pada bulan April hingga Mei 2018 lalu.

Fadli mengatakan Jika pemerintah tetap menurunkan HET beras maka petani bisa kehilangan insentif.

Dirinya menilai kebijakan itu adalah sesuatu yang tidak adil karena dapat menginjak kehidupan para petani.

Jika pemerintah menurunkan HET beras, petani bisa kehilangan insentif. Menurut sy itu jahat sekali, memberikan harga murah kepada konsumen tapi dgn menginjak periuk nasi petani. Ini tidak fair,” tulis Fadli Zon.


Disamping itu, dirinya menilai Permendag No. 57/2017 soal Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras sudah efektif dalam menekan inflasi.

Namun Fadli menyayangkan jika peraturan yang belum berumur setahun itu bakal direvisi.

Untuk itu, dirinya menyebut penurunan HET hanya akan membuat gaduh saja.

Menurut sy juga sudah efektif menekan inflasi. Sehingga, sgt aneh jika kebijakan yg belum berumur setahun tsb hendak dibongkar kembali. Apalagi, opsinya tdk lebih baik. Penurunan HET hanya akan membuat gaduh saja,” lanjut Fadli Zon.


Berikut cuitan lengkap Fadli Zon mengenai rencana pemerintah untuk menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras.

1) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menolak rencana pemerintah yg akan menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras. Sy sampaikan penolakan itu saat melantik pengurus DPD HKTI Kalimantan Tengah, Jumat, 8 Juni 2018, di gedung Istana Isen Mulang, Palangkaraya, Kalteng.

2) Kebijakan tsb sudah pasti akan merugikan petani. Itu sebabnya kami menolak rencana tsb. Penurunan HET beras secara linier akan langsung menekan harga gabah, padahal saat ini sh harga gabah di tingkat petani sudah sgt rendah, akibat panen raya April-Mei 2018.

3) Bagaimana petani bisa mendapatkan insentif jika harga gabahnya hendak ditekan melalui penurunan HET? Dalam catatan kami di HKTI, HET beras yg diatur oleh Permendag No. 57/2017 sebenarnya sdh cukup moderat.

4) Walau harga pembelian pemerintah tak ada koreksi, tetap di angka Rp3.750 per kg, namun di lapangan petani bisa menjual gabah di kisaran harga Rp. 4.500 hingga Rp. 5.000 per kg.

5) Itu harga yg bisa memberi sedikit keuntungan bagi para petani, sebab menurut catatan IRRI, harga pokok produksi gabah adlh sekitar Rp. 4.079 per kg.

6) Jika pemerintah menurunkan HET beras, petani bisa kehilangan insentif. Menurut sy itu jahat sekali, memberikan harga murah kepada konsumen tapi dgn menginjak periuk nasi petani. Ini tidak fair.

7) Dalam kaitannya dgn harga pangan, orientasi pemerintah mestinya adlh keadilan dan keterjangkauan, bukan murah dan mahal. Adil untuk petani, dan terjangkau untuk konsumen.

8) Dlm catatan HKTI, Permendag No. 57/2017 telah membentuk equilibrium baru di pasaran. Peraturan tsb bisa menjinakkan harga beras yg sebelumnya bisa mencapai Rp.15.000 hingga Rp.17.500 per kg.

9) Konsumen kini bisa menerima dan menjangkau harga equilibrium baru yang berada di kisaran Rp.9.450 hingga Rp.12.800.

10) Permendag No. 57/2017 menurut sy juga sudah efektif menekan inflasi. Sehingga, sgt aneh jika kebijakan yg belum berumur setahun tsb hendak dibongkar kembali. Apalagi, opsinya tdk lebih baik. Penurunan HET hanya akan membuat gaduh saja.

11) Ketimbang mengubah HET, HKTI menyarankan kpd pemerintah agar meningkatkan pengawasan thdp implementasi Permendag No. 57/2017. Meningkatkan pengawasan jauh lebih murah risikonya drpd merilis kebijakan baru yg akan membongkar keseimbangan yg sdh terbentuk.

12) HKTI juga mendorong agar Bulog menyerap gabah petani dan minta harga pembelian pemerintah yang jadi patokan Bulog dinaikkan 10% dari harga pokok produksi gabah, menjadi Rp. 4.500 per kg. @hkti

13) Agak sulit bagi Bulog untuk menyerap gabah petani pada harga Rp. 3.750 per kg, sebab harga itu di bawah harga pokok produksi yang dikeluarkan petani. Kenaikan 10% itu saya kira sangat wajar, agar petani bisa hidup sejahtera. @hkti,” tandas Fadli Zon.


Seperti dikutip dari Kompas.com, pemerintah akan mengkaji ulang rencana penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras dari Rp 9.450 per kilogram menjadi Rp 8.950 per kilogram.

Asisten Deputi Moneter Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi mengatakan, kesejahteraan petani mesti diperhitungkan dalam penetapan HET beras.

HET beras diterapkan untuk menjaga stabilitas harga komoditas di tingkat konsumen sebagai upaya mengendalikan inflasi.

“Jangan sampai membuat produsen kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan karena kalau tidak mereka akan kesulitan untuk ekspansi produksi. Kita harus lihat seimbang untuk menjaga ini. Sehingga bisa dikatakan, tujuan HET ini untuk menjangkar harga supaya tidak berlebihan,” ujar Edi, Selasa (5/6/2018).[tn]

Loading...
loading...