Guru Gembul Sebut Ustadz Adi Hidayat sebagai “Setan yang Bisu” di Konten Terbaru -->

Guru Gembul Sebut Ustadz Adi Hidayat sebagai “Setan yang Bisu” di Konten Terbaru

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -
Konten kreator dan YouTuber Guru Gembul kembali menuai sorotan setelah mengunggah video terbarunya yang berjudul Eps 1080 | PERBUDAKAN DALAM ISLAM. USTD ADI HIDAYAT JADI SETAN BISU. Video yang diunggah pada 21 Oktober 2026 di kanal YouTube “guru gembul” (dengan lebih dari 1,8 juta subscriber) itu sudah ditonton ratusan ribu kali dalam waktu singkat

Dalam video berdurasi sekitar 22 menit tersebut, Guru Gembul membahas isu-isu yang ia sebut sebagai bentuk “perbudakan” atau eksploitasi di sebagian pesantren dan lingkungan keagamaan tertentu. Ia menampilkan cuplikan ceramah seorang tokoh yang dianggapnya bermasalah—berisi candaan soal uang, wanita, dan santri putri—lalu mengaitkannya dengan sistem pendidikan pesantren yang menurutnya sering kali tidak mengajarkan ilmu agama yang murni, melainkan praktik-praktik yang ia nilai menyimpang, seperti wirid-wirid tertentu, pengkultusan makam, hingga praktik meminta-minta.

Bagian paling kontroversial adalah penamaan Ustadz Adi Hidayat (UAH) sebagai “setan yang bisu”. Istilah ini merujuk pada ungkapan klasik dalam tradisi Islam (*syaitan akhras* atau setan bisu), yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan kemungkaran, tetapi memilih diam dan tidak bersuara untuk meluruskannya. Guru Gembul menuding sejumlah ulama terkenal, termasuk UAH, enggan atau tidak berani mengkritik secara terbuka berbagai penyimpangan yang terjadi di sebagian lembaga pendidikan Islam dan di kalangan tokoh tertentu, karena berbagai alasan seperti adab, takut kehilangan pengaruh, atau kepentingan lain.

Guru Gembul, yang dikenal dengan gaya kritis dan pendekatan yang menggabungkan filsafat, sejarah, dan kritik sosial terhadap praktik keagamaan di Indonesia, menegaskan bahwa ia tidak menjelekkan Islam itu sendiri, melainkan mengkritik orang-orang yang menurutnya menyalahgunakan nama agama untuk kepentingan pribadi atau sistem yang merugikan. Ia menyoroti fenomena di mana praktik-praktik negatif terus berlanjut karena dilindungi oleh label “ulama”, “pesantren”, atau “Islam”.

Video ini memicu reaksi beragam. Sebagian penonton mendukung dengan alasan bahwa kritik seperti ini diperlukan untuk membersihkan ajaran agama dari penyimpangan. Di sisi lain, banyak yang menilai judul dan pernyataan tersebut sebagai serangan terhadap ulama dan berpotensi memecah belah umat. Komentar di YouTube menunjukkan polarisasi yang tajam, dengan sebagian pengguna menuduh Guru Gembul secara konsisten menonjolkan sisi negatif Islam dan ulama.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Ustadz Adi Hidayat atau pihak terkait. UAH sendiri dikenal sebagai ulama yang aktif berdakwah dengan pendekatan modern dan ilmiah, serta menjabat posisi di Muhammadiyah. Kontroversi ini menambah daftar panjang perdebatan antara Guru Gembul dengan sejumlah tokoh agama di Indonesia, termasuk sebelumnya dengan Bahar bin Smith dan lainnya.

Fenomena ini kembali menyoroti dinamika kritik keagamaan di ruang digital Indonesia, di mana YouTuber independen semakin berani menantang otoritas ulama tradisional melalui konten yang viral. Apakah pernyataan Guru Gembul akan direspons secara terbuka oleh pihak yang disebut, atau justru memperkuat polarisasi, masih menjadi pertanyaan terbuka.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan