Budayawan: Gibran Pangeran Bloon dan Tembok Ratapan Jokowi Sudah Ambruk -->

Budayawan: Gibran Pangeran Bloon dan Tembok Ratapan Jokowi Sudah Ambruk

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
- Budayawan Mohamad Sobary melontarkan kritik tajam terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan kondisi politik keluarga Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Ia menyebut Gibran sebagai “pangeran bloon” yang dinilainya belum matang dalam memahami permainan politik nasional.

Dalam pernyataannya, Sobary menilai Gibran belum menunjukkan kemampuan membaca peta politik, memahami arah permainan para elite, maupun menangkap dinamika hubungan antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto.

“Gibran pangeran bloon, mentahnya mentah, naifnya naif,” kata Mohamad Sobary di Podcast Obor Rakyat Reborn, Selasa (27/10/2026).

Menurut Sobary, persoalan yang ia soroti bukan hanya soal kemampuan Gibran sebagai individu, melainkan juga pemahamannya terhadap situasi politik yang sedang berkembang. Ia mempertanyakan sejauh mana wakil presiden tersebut memahami langkah politik Jokowi, strategi Prabowo, serta arah hubungan kekuasaan di tingkat nasional.

Sobary menggambarkan Gibran seolah tidak mengetahui permainan politik yang sedang berlangsung di sekelilingnya.

“Dia tidak tahu kiri kanan. Dia tidak tahu konteks politik ini sekarang sebenarnya permainan apa. Bapaknya itu main seperti apa, mau ke arah mana, Presiden Prabowo bagaimana mainnya, dia tidak tahu sama sekali. Dia tidak tahu cara membaca peta politik,” ujarnya.

Kritik tersebut menyasar persoalan yang lebih luas, yakni kapasitas kepemimpinan Gibran di tengah perubahan peta kekuasaan setelah pergantian pemerintahan dari Jokowi kepada Prabowo.

Dalam politik nasional, kemampuan membaca situasi, memahami kepentingan berbagai kelompok, dan menentukan posisi strategis merupakan bagian penting dari kepemimpinan. Karena itu, penilaian Sobary tersebut menjadi kritik keras terhadap kesiapan Gibran menjalankan peran sebagai wakil presiden.

Tak berhenti pada Gibran, Sobary juga melontarkan kritik terhadap Jokowi. Ia mengungkapkan kekecewaan atas perjalanan politik mantan presiden tersebut dan menggunakan ungkapan Jawa untuk menggambarkan konsekuensi dari tindakan seseorang.

“Kita malu dan kita pernah merasa seperti dikencingi Jokowi,” kata Sobary.

Ungkapan itu menunjukkan kerasnya kekecewaan yang ia sampaikan. Dalam pandangannya, perjalanan politik Jokowi harus dinilai berdasarkan tindakan dan keputusan yang telah diambil selama berkuasa, termasuk dampaknya terhadap kepercayaan publik.

Sobary kemudian mengutip ungkapan Jawa, “Jokowi metik woing pakarti,” yang dalam maksud pernyataannya menggambarkan seseorang yang memetik buah dari perilaku dan perbuatannya sendiri.

Pesan yang hendak ditegaskan adalah bahwa kekuasaan tidak membuat seseorang terbebas dari konsekuensi atas keputusan politiknya. Dukungan yang pernah diperoleh seorang pemimpin dapat berubah ketika masyarakat menilai tindakan dan sikapnya tidak lagi sesuai dengan harapan.

Pernyataan paling tajam disampaikan Sobary ketika menggambarkan kondisi bangunan politik yang selama ini dikaitkan dengan Jokowi.

“Tembok ratapan itu kerajaannya sudah ambruk. Bangunan keratonnya Jokowi ambruk, tidak ada,” ujarnya.

Ungkapan “Tembok Ratapan” dan “keraton Jokowi” dalam pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai metafora untuk menggambarkan kemerosotan pengaruh atau melemahnya bangunan politik yang diasosiasikan dengan mantan presiden itu.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan