Sosok Pria yang Kabur saat Ombudsman Sidak Ruang Mewah Lapas Cibinong, Diduga Jimmy Masrin -->

Sosok Pria yang Kabur saat Ombudsman Sidak Ruang Mewah Lapas Cibinong, Diduga Jimmy Masrin

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
-  Nama pengusaha Jimmy Masrin ikut terseret dalam sorotan setelah sosok pria yang diduga dirinya terlihat kabur dan mengunci diri di sebuah kamar saat Ombudsman RI melakukan sidak di kawasan Lapas Kelas IIA Cibinong.

Wajah mirip Jimmy tampak dalam foto yang terpampang di salah satu fasilitas mewah di Lapas Cibinong Bogor.

Banyak yang menduga, pria yang mencoba kabur saat Ombudsman datang itu merupakan Jimmy.

Anggota Ombudsman RI Syafrida Rachmawati Rasahan menceritakan bahwa pihaknya tak sengaja menemukan fasilitas mewah tersebut.

Mereka mendapati banyak mobil mewah terparkir.

Selain itu terdapat pula ruma-rumah mirip vila kecil dengan fasilitas setara apartemen.

Mulai dari interior, sofa, hingga peralatar elektronik mewah di setiap rumah.

"Banyak mobil, ada rumah pagar hitam cat putih, ada dapur terbuka yang ada sayur ikan yang kelihatan baru dibeli tapi tidak diolah," katanya.

Syafrida mengatakan Ombudsman sempat mendapati sejumlah orang mengaku sebagai warga binaan.

"Ada laki-laki, ketika saya tanya anda siapa katanya tamu, ketemu dengan siapa ? ketemu petugas lapas tapi ketika saya tanyakan siapa petugas lapasnya dia malah lupa. Ini menunjukan bahwa sebenarnya di dalam lingkungan itu kalau memang dinyatakan, kami tidak juga menyatakan tempat yang disewakan," katanya.

Bahkan ada satu warga binaan yang mengaku membayar untuk bisa tinggal di fasilitas tersebut.

"Tapi secara fakta yang kami temukan dalam salah satu rumah itu ada warga binaan yang kami sempat wawancarai dan kami tanyakan bapak siapa dia mengaku sebagai warga binaan. Dan ketika kami tanya apakah anda membayar dia menyebutkan memang mengeluarkan uang untuk bisa tinggal di sini," katanya.

Pada satu video ketika Ombudsman masuk ke salah satu rumah, tampak seorang pria di balik pintu kamar.

Dia mengenakan kaos warna gelap dan celana pendek.

Saat hendak dihampiri petugas, pria itu buru-buru menutup pintu.

Syafrida mengaku tidak dapat memastikan siapa pria yang kabur tersebut.

"Kami tidak bisa memastikan siapa yang kabur itu. Karena memang kami tidak berhasil menahan yang bersangkutan," katanya.

Menurutnya sosok itu langsung lari dan mengunci pintu.

"Karena memang waktu kami masuk, dia masih melihat kami, mau keluar. Tapi ketika, ternyata yang dilihatnya mungkin bukan petugas lapas, dia lari ke kamar, sehingga kami tidak bisa memastikan siapa yang masuk ke kamar dan mengunci pintu, apa warga binaan atau masyarakat biasa," katanya.

Di rumah yang sama, tepatnya di ruang tv, terdapat foto berbentuk kolase yang terpanjang dalam sebuah frame kecil.

Pada foto tampak sejumlah potret bersama dan lelaki berambut putih dengan mata sipit.

Banyak warganet menduga bahwa pria di rumah itu adalah Jimmy Masrin.

Jimmy Masrin, pengusaha kelahiran 1963, dikenal sebagai ayah dari pegolf Danny Masrin. 

Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di University of Oklahoma, Amerika Serikat, pada 1985.

Jimmy meraih gelar Master of International Management dari The American Graduate School of International Management (Thunderbird), Arizona, pada 1987.

Berdasarkan informasi dari lincgrp.com, Jimmy memulai kariernya sebagai Manajer Pemasaran di Dauphin Technology, Lombard, Illinois.

Pada 1989, ia bergabung dengan Grup Lautan Luas dan menduduki posisi Wakil Presiden Direktur di salah satu anak perusahaan. 

Kariernya terus menanjak hingga diangkat sebagai Direktur Perseroan pada 1990, kemudian menjadi Direktur Pengelola pada 1996, dan Wakil Presiden Direktur Perseroan pada 2007.

Saat ini, Jimmy menjabat sebagai anggota Dewan Komisaris atau Direksi di beberapa perusahaan di bawah Grup Lautan Luas.

Berdasarkan profil LinkedIn-nya, ia juga menjabat sebagai CEO PT Caturkarsa Megatunggal sejak 2007.

Jimmy juga memegang beberapa posisi dewan di berbagai perusahaan di seluruh dunia.

Selain di dunia bisnis, Jimmy aktif di bidang olahraga golf. 

Ia merupakan pendiri Indonesian Masters sekaligus menjabat sebagai Chairman Asian Tour.

Jimmy Masrin terjerat kasus korupsi di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Kasus ini berkaitan dengan pemberian fasilitas kredit kepada PT Petro Energy, yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui LPEI.

Selain Jimmy, empat tersangka lainnya adalah Dwi Wahyudi (Direktur Pelaksana I LPEI), Arif Setiawan (Direktur Pelaksana IV LPEI), Newin Nugroho (Direktur Utama PT Petro Energy), dan Susy Mira Dewi Sugiarta (Direktur Keuangan PT Petro Energy).

 Jimmy divonis 10 tahun penjara setelah putusan banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Rabu (11/3/2026).

Hakim juga menghukum Jimmy dengan pidana denda Rp 250 juta subsider 90 hari pidana kurungan. Selain itu, Jimmy dihukum membayar uang pengganti USD 32.691.551,88 subsider 8 tahun pidana kurungan.

Jimmy Masrin mulai ditahan sejak 20 Maret 2025, awalnya di Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama masa penyidikan. Ia kemudian dipindahkan ke Lapas Kelas IIA Cibinong.

Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jawa Barat Yudi Sesno mengaku kini pihaknya masih melakukan pendalaman terkait temuan Ombudsman RI di Lapas Cibinong Bogor.

"Sedang melakukan pendalam terkait dengan yang menjadi temuan yang diduga adalah yang tadi disampaikan," katanya.

Menurutnya fasilitas mewah tersebut merupakan rumah dinas pejabat lapas.

"Jadi beberapa hal kalau terkait dengan rumah dinas saya mendapat laporan awal, itu memang rumah dinas jabatan," katanya.

Katanya fasilitas itu digunakan sebagai tempat asimilasi narapidana yang akan bebas.

Sedangkan Jimmy Masrin baru saja masuk ke Lapas Cibinong beberapa bulan lalu untuk menjalani hukuman 10 tahun penjara.

"Lokasi rumah dinas itu memang bersebelahan dengan lapas. Di wilayah tersebut ada kegiatan Pondosk Sarana Asimiliasi dan Edukasi," katanya.

Menurutnya warga binaan yang ditemukan Ombudsman sedang menjalani proses asimilasi.

"Itu lah yang mungkin ada beberapa rumah untuk singgah mereka yang mendapat asimilasi itu. Itu mungkin yang ditemukan Ombudsman," katanya.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan