Kesaksian Ketua RW, Yayan Sadar Jadi Tentara Rusia, Bantah Mendaftar sebagai Satpam -->

Kesaksian Ketua RW, Yayan Sadar Jadi Tentara Rusia, Bantah Mendaftar sebagai Satpam

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kesaksian Ketua RW, Yayan Sadar Jadi Tentara Rusia, Bantah Mendaftar sebagai Satpam

GELORA.CO -
  Kepergian Wahyu Oktavian Iskandar menjadi tentara Rusia telah mencuri perhatian publik. Pun halnya dengan negara yang tengah mengonfirmasi kabar tersebut. 

Pria yang akrab disapa Yayan itu memilih 'hijrah' dengan kehidupan baru keluar negeri dan menanggalkan catatan lamanya.

Yayan merupakan salah satu WNI yang menjadi tentara Rusia menurut data Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (Foreign Intelligence Service of Ukraine/FISU). Mereka direkrut dengan iming-iming gaji tinggi menjadi militer Rusia. Dalam laporan FISU, Yayan mendapatkan visa Rusia yang berlaku pada 14 April 2026-11 Agustus 2026.

Yayan di masa mudanya dikenal bukan sebagai pemuda baik-baik. Pria kelahiran 22 Oktober 1985 itu pernah terlibat perkelahian hingga narkoba layaknya pemuda bandel penuh gejolak. Tapi masa lalu itu ditinggalkan Yayan dengan menjadi tentara Rusia demi semangat menjadi manusia yang lebih baik.

Begitulah cerita dari Ketua RW 06 Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok, Sugeng, yang sangat mengenal Yayan. Bahkan hubungan keduanya sudah selayaknya ayah dan anak angkat. Maklum saja, kedua orangtua Yayan telah dipanggil lebih dulu ke pangkuan Ilahi. Praktis Sugeng selalu hadir untuk Yayan sebagai empunya wilayah.

Sugeng mengungkapkan rencana kepergian Yayan sudah pernah dibicarakan sebelumnya. Sehingga Sugeng tidak kaget saat Yayan viral sebagai tentara Rusia. Yayan pun sempat pamit dengan Sugeng sambil berlinang air mata sebelum berangkat. Tak lupa Sugeng memberi bekal seadanya kepada Yayan.

"Nangis-nangis, peluk saya waktu pamit dia bilang ingin berubah. Ya karena saya ini sudah seperti ayah angkatnya, saya kasih lah (ongkos) buat di jalan," kata Sugeng saat ditemui Republika pada Rabu (2/9/2026).

Yayan merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya disebut berprofesi sebagai polisi. Almarhum ayah Yayan pun seorang marinir. Sehingga Yayan sudah akrab dengan dunia aparat meski bukan aparat.

Sugeng membantah kalau Yayan mendaftar sebagai satpam di Rusia. Sejak awal, Yayan disebut sudah mengetahui pekerjaan yang akan dilakoninya sebagai tentara Rusia. Ini sekaligus menepis kabar Yayan terjerat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Tapi Yayan tak menceritakan darimana mendapat informasi lowongan sebagai tentara Rusia. Sugeng mengikhlaskan kepergian Yayan karena berharap anak angkatnya itu menjadi manusia yang lebih baik.

"Dia ingin berubah. Dia daftar jadi tentara dia tau bukan sebagai satpam dia cerita. Tapi saya nggak tahu info rekrutannya darimana," ujar Sugeng.

Sugeng tak ingin Yayan terus hidup tak tentu arah. Selama ini, Yayan memang hanya seorang pengangguran. Sugeng berharap Yayan belajar displin dan menambah jejaring dari hasil kerjanya dengan Rusia. Sehingga sekembalinya ke Tanah Air, Yayan tak terjebak di dunia gelap.

"Saya pengennya dia lebih baik jangan luntang-lantung, nganggur," ujar Sugeng.

Setelah perpisahan itu, Sugeng dan Yayan sempat berkomunikasi lewat WhatsApp. Bahkan keduanya pernah video call. Saat itulah, Sugeng tahu kondisi Yayan baik-baik saja di perantauannya. Yayan mengaku tugasnya kini dekat dengan bahan peledak. Tapi belakangan Sugeng belum dapat berbincang lagi dengan Yayan.

"Sempat kontakan, videocallan sama saya doang, sekarang belum bisa lagi. Bilangnya bukan ditaruh di garis depan, tapi di pabrik bom," ujar Sugeng.

Dari perbincangan keduanya, Yayan mengaku dikontrak selama setahun. Tak diketahui apakah kontrak itu bisa diperpanjang atau tidak.

Setelah viralnya Yayan jadi tentara Rusia, Sugeng menyebut belum ada kunjungan pihak pemeerintah RI ke rumah Yayan. Baik itu perwakilan polisi, TNI, Pemda, atau pun Kemenlu belum ada yang mengabarkan Sugeng ingin bertandang ke rumah Yayan.

"Belum ada yang ngabarin, soalnya kalau ada apa-apa pasti saya tahu," ujar Sugeng.

Terlepas dari itu, Sugeng tak mempersoalkan kepergian Yayan. Apalagi Yayan sudah bertekad kuat meraih kehidupan baru. Sugeng hanya berharap Yayan dapat pulang ke Tanah Air dalam keadaan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Sugeng berpesan agar Yayan berhati-hati tak gegabah selama berdinas.

"Urusan hidup mati di tangan Allah," ucap Sugeng menirukan kata-kata perpisahan Yayan.

Pada akhir Agustus 2026, FISU merilis data terbaru terkait upaya Kremlin merekrut delapan WNI menjadi tentaranya untuk berperang melawan Ukraina. Dalam laman resmi FISU, dijelaskan bahwa Rusia terus secara sistematis merekrut warga asing untuk berperang melawan Ukraina.

FISU telah memperoleh dokumen tentang setidaknya delapan warga negara Indonesia yang direkrut ke dalam barisan tentara pendudukan Rusia. Menurut FISU, skema yang digunakan Moskow untuk merekrut prajurit asing telah diuji di puluhan negara lain.

Pola yang sama sebelumnya telah digunakan oleh warga negara Nepal, Kuba, Kenya, dan India. Sebagian besar dari mereka yang direkrut berakhir di garis depan tanpa pelatihan apa pun.

Sebanyak delapan WNI yang dirilis FISU, mendapatkan visa Rusia dan satu orang dari Belarusia. Mereka direkrut menjadi tentara Rusia untuk berada di garis depan melawan Ukraina. Ditampilkan pula identitas lengkap mereka asal Indonesia.

Seperti informasi yang beredar, Yudha Putra Pratama, Haryanto Dwi Kencana, Erwanda, Ngangun Hudri Fadli, Syaripudin Muhammad, Maulana M Hadi, Iskandar Wahyu Oktavian, dan terakhir Helmi Nugraha Hakim yang mendapatkan visa lewat Belarusia. Daftar itu di luar mantan personel Marinir TNI AL Serda (Mar) Satriya Arta Kumbara dan anggota Brimob Polda Aceh Bripda Muhammad Rio. Rizky.


BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan