Jokowi Sentil Para Pendebat: Pintar Tak Perlu Dipertontonkan -->

Jokowi Sentil Para Pendebat: Pintar Tak Perlu Dipertontonkan

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO  — Mantan Presiden Joko Widodo mengkritik keras fenomena debat publik yang dinilainya semakin kehilangan etika. Jokowi mengaku kerap mengelus dada melihat perbedaan pendapat berubah menjadi ajang saling mencaci dan mempertontonkan kepintaran.

Menurut Jokowi, perdebatan di ruang publik seharusnya menjadi sarana menyampaikan gagasan dan memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, bukan berubah menjadi panggung penghinaan.

"Kadang-kadang saja ngelus dada. Adat ketimuran kita ada di mana, sopan santun kita ada di mana? Tata krama kita ada di mana?" kata Jokowi.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat menghadiri Maulidurrasul Muhammad SAW dan Haul ke-8 Almaghfurlahu K.H. Musyaffa' Ali di Pondok Pesantren Al Falah Sumberadi, Kebumen, Jawa Tengah.

Jokowi menilai masih ada orang yang sebenarnya belum memahami banyak hal, tetapi sudah merasa paling pintar.

Ia juga menyoroti fenomena perdebatan di televisi yang kerap berubah menjadi ajang menunjukkan siapa yang paling hebat dalam berbicara.

"Yang belum pintar aja sudah rumongso pintar. Yang banyak pirsani di TV-TV waktu debat itu, wah kadose pinter-pinteran ngendikan. Yo meskipun pinter gak usah diketok-ketokke," ujar Jokowi.

Menurutnya, orang yang memiliki kemampuan tidak perlu terus-menerus mempertontonkan keunggulannya di hadapan publik.

Justru, kata dia, seseorang yang berbicara di hadapan banyak orang memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan hal-hal yang baik.

"Jadi mestinya kalau kita dilihat orang banyak itu menyampaikan hal yang baik supaya orang mengikuti kita menjadi baik. Debat kok caci maki kayak gitu," tegasnya.

Jokowi menegaskan perbedaan pandangan dalam politik merupakan sesuatu yang wajar.

Dalam kehidupan demokrasi, kata dia, selalu ada pihak yang mendukung dan menolak. Ada pula orang yang menyukai maupun tidak menyukai seseorang.

"Yang kedua yang namanya dalam dunia politik itu yang pro dan kontra itu biasa. Ada yang setuju, ada yang tidak. Ada yang senang, ada yang tidak senang," ujarnya.

Namun, perbedaan tersebut, menurut Jokowi, tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan kesantunan.

Ia mengingatkan bahwa pertentangan politik tidak seharusnya mendorong seseorang melontarkan hinaan, fitnah, dan perkataan kasar.

Jokowi sendiri mengaku tidak asing dengan serangan dan cacian dari pihak-pihak yang tidak menyukainya.

Meski demikian, ia menilai perbedaan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan politik

BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan