GELORA.CO — Thailand kembali diguncang gelombang kekerasan. Sedikitnya 51 serangan bom dan aksi pembakaran terjadi secara terkoordinasi di tiga wilayah selatan negara itu, Narathiwat, Yala, dan Pattani, pada Sabtu (22/8/2026) malam hingga Minggu (23/8/2026) dini hari.
Serangan berlangsung dalam rentang sekitar pukul 20.00 hingga tengah malam waktu setempat. Sasaran pelaku tidak hanya fasilitas pemerintah, tetapi juga menara telekomunikasi, fasilitas publik hingga toko 24 jam 7-Eleven.
Komando militer Internal Security Operations Command (ISOC) menyebut rangkaian serangan tersebut diduga dirancang untuk menciptakan keresahan dan mengganggu keamanan di kawasan perbatasan selatan Thailand.
"Beberapa insiden terkoordinasi yang bertujuan untuk menciptakan keresahan terjadi di berbagai lokasi di seluruh wilayah perbatasan selatan," kata juru bicara ISOC dalam pernyataan resmi yang dikutip AFP, Minggu.
Narathiwat menjadi wilayah yang paling terdampak. Sejumlah ledakan bom di tepi jalan menyebabkan beberapa warga terluka dan harus mendapatkan perawatan medis.
Situasi yang memburuk memaksa otoritas keamanan mengambil langkah tegas. Komando militer Narathiwat memberlakukan jam malam darurat dari Sabtu malam hingga Minggu pagi.
Polisi dan militer juga memperketat pemeriksaan serta membatasi pergerakan warga untuk mencegah serangan lanjutan.
"Pengumuman jam malam dilakukan agar aparat berwenang dapat mengendalikan situasi dan menjamin keselamatan publik secara menyeluruh," tegas Komandan Satgas Narathiwat, Mayor Jenderal Yodawud Phuengphak.
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas rentetan serangan tersebut.
Namun, kawasan selatan Thailand bukan wilayah asing bagi konflik bersenjata. Narathiwat, Yala, dan Pattani telah lama menjadi pusat konflik bernuansa separatisme sejak 2004.
Konflik berkepanjangan itu telah menewaskan lebih dari 7.000 orang dalam perjuangan kelompok-kelompok tertentu yang menuntut otonomi lebih luas
Sumber: monitorIndonesia
