GELORA.CO - Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, menilai aksi demonstrasi besar pada 27 Agustus 2026 tidak lepas dari operasi politik yang bertujuan mengguncang Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pernyataannya, Syahganda menyebut istilah Agitprop (agitasi propaganda), sebuah instrumen politik yang digunakan Uni Soviet pasca Revolusi Oktober 1917. Agitprop merujuk pada Departemen Agitasi dan Propaganda yang kala itu bertugas mengontrol informasi, seni, literatur, dan media massa untuk mengindoktrinasi masyarakat.
"Pasti ada dong. Karena itu kan kalau dalam teori lama yang disebut Agitprop, agitasi propaganda ya zaman-zaman komunis dulu ya di Lenin, Stalin apa segala itu kan sudah dikenal ya kan ledakan dari tempat yang kecil digesarkan dengan propagandanya kan gitu kan," ujar Syahganda dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Senin (31/8).
Pati ini kan agitasinya ya, propagandanya itu ya mulai sejumlah mall mau ditinggiin ya, narasi kebakaran hutan dikaitkan dengan tahun ini tahun Cina nih yang tahun api ya kan. KKemudian apa media sosial narasinya itu bahwa akan ada namanya gerakan 1 juta tadi apa segala itu," imbuhnya.
Menurutnya, pola ini menunjukkan adanya upaya agitasi dan propaganda yang terstruktur.
Sebagai informasi, demonstrasi besar pada 27 Agustus 2026 dipelopori oleh warga Pati, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB). Massa dari Pati menjadi motor penggerak utama yang berhasil memobilisasi gelombang aksi berskala nasional.
Dalam orasi di depan Gedung DPR RI, AMPB membawa dua tuntutan pokok: segera mengesahkan RUU Perampasan Aset dan menerapkan hukuman mati bagi koruptor.
