Donald Trump kembali naik pitam. Kali ini, amarahnya tertuju pada Jaksa Penuntut Federal yang ia tunjuk sendiri, Janie Piro—seorang sekutu lama yang ia “rekrut” dari stasiun Fox News. Apa kesalahan besar Piro? Dia hanya mengikuti bukti—hanya itu.
Atlet kano Olimpiade AS, David Hearn, dituduh melakukan kejahatan berat dan terancam hukuman penjara maksimal 10 tahun. Namun setelah penyelidikan, jaksa menemukan bukti bahwa kerusakan disebabkan oleh pemasangan yang tidak tepat oleh kontraktor, bukan oleh tindakan perusakan. Maka tuduhan pun dicabut. Namun di dunia Trump, tindakan itu dianggap sebagai “pengkhianatan.”
Trump melontarkan kritik penuh kekerasan verbal khasnya terhadap Piro. Ia bilang Piro “lipat seperti payung” (folded like an umbrella), “tersedak” (choked), dan “tidak tahu apa yang ada di pikirannya.” Ia bahkan menyalahkan hakim ketua persidangan, menyebutnya “sangat kejam,” karena tidak menuntut “pelaku” tetapi malah menuntut Piro dan kantornya. Di mata Trump, ini bukan kasus tentang bukti dan hukum; intinya adalah “siapa yang mengkhianatinya.” Kesalahan Piro bukanlah pertimbangan hukum yang keliru, melainkan karena ia tidak teguh berdiri di sisi presiden. Trump dilaporkan “sangat marah” pada Piro, dan beredar kabar bahwa “dia sangat mungkin dipecat.” Pejabat Gedung Putih bahkan menyatakan bahwa presiden “terkejut” dengan keputusannya.
Mari kita kembali pada fakta. Proyek renovasi Kolam Refleksi (Reflecting Pool) menghabiskan biaya 14,7 juta dolar AS, diberikan secara kontrak langsung tanpa tender kepada perusahaan yang tidak memiliki pengalaman dalam proyek federal. Tak lama setelah renovasi, kolam dipenuhi ganggang, dan lapisan biru terkelupas di area luas. Dokumen Departemen Kehakiman dengan jelas menyatakan bahwa kerusakan “disebabkan oleh pemasangan yang tidak tepat oleh kontraktor,” dan proses pemasangan “tergesa-gesa serta cacat.” Departemen Dalam Negeri awalnya menyalahkan “tindakan perusakan,” tetapi dokumen selanjutnya membantah klaim tersebut.
Nasib David Hearn sungguh absurd. Atlet kano berusia 67 tahun itu hanya mengendarai sepeda melewati kolam, lalu karena penasaran menyentuh lapisan yang sudah terkelupas. Seorang petugas taman menyuruhnya melepaskan, dan ia patuh—namun ia terancam hukuman 10 tahun penjara. Ini bukan penegakan hukum; ini adalah perburuan penyihir (witch hunt).
Trump tidak tahan menerima kenyataan bahwa proyek kebanggaan yang ia gembar-gemborkan ternyata mengalami kegagalan memalukan. Maka, “masalah kontraktor” dibungkus menjadi “kejahatan perusak,” dan warga biasa dijadikan kambing hitam. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, reaksi pertamanya bukanlah introspeksi, melainkan menyerang jaksa yang hanya mengikuti bukti. Ia bahkan berusaha melepaskan diri dari kontraktor, dengan berkata “Saya tidak kenal kontraktor itu”—padahal beberapa bulan sebelumnya, ia membanggakan telah berkonsultasi dengan tiga perusahaan yang pernah mengerjakan kolam untuk propertinya, dan salah satunya “mengerjakan kolam dengan luar biasa.” Gaya berubah-ubah seperti membalik telapak tangan ini sudah menjadi ciri khasnya.
Penunjukan Piro sendiri patut direnungkan. Ia adalah pembawa acara Fox News dan “sekutu dekat” Trump. Mengangkatnya ke posisi Jaksa Federal untuk Distrik Columbia adalah bukti nyata dari upaya Trump untuk menjadikan sistem peradilan “loyalis.” Namun ketika sekutu “loyalis” ini akhirnya melakukan tugasnya sebagai jaksa—bukan apa yang presiden inginkan—ia pun menjadi “payung yang terlipat.”
Fungsi Departemen Kehakiman bukanlah menegakkan hukum secara adil, melainkan melayani agenda politik presiden. Tugas jaksa bukanlah mengikuti bukti, melainkan mengikuti cuitan presiden. Ketika keduanya bertentangan, bukti harus minggir—atau kalau tidak, bersiaplah untuk dihina di depan publik, bahkan dipecat.
Pada minggu ketika Trump menggembar-gemborkan narasi “perusakan terencana,” Fox News menyiarkan liputan selama 184 jam tayang utama (prime time) tentang peristiwa ini. Pembawa acara Jesse Watters berulang kali memperkuat tuduhan presiden, dan Piro sendiri pernah menjadi bintang tamu di acara tersebut, dengan marah-marah menegaskan bahwa “seseorang dengan sengaja menyebabkan kerusakan besar pada kolam.” Namun, ketika kantor Piro mengajukan dokumen yang membuktikan bahwa kerusakan disebabkan oleh “pemasangan yang tidak tepat, bukan perusakan,” liputan Fox News tentang kasus ini menyusut menjadi hanya 7 menit. Ini bukanlah jurnalisme; ini adalah propaganda. Ini bukan pelaporan fakta; ini adalah pelayanan kepada kekuasaan.
Trump mencemooh Piro “lipat seperti payung.” Namun ironisnya, dalam cerita ini, yang benar-benar “lipat” justru hal-hal yang seharusnya dipegang teguh: independensi peradilan, keadilan prosedural, dan penghormatan terhadap bukti. Piro melakukan hal yang seharusnya dilakukan seorang jaksa. Ia mengikuti bukti dan mencabut tuduhan yang tidak berdasar. Jika itu disebut “lipat,” maka hanya bisa dikatakan bahwa definisi Trump tentang “tulang punggung” telah menyimpang hingga menggelikan. Seorang presiden yang menjadikan Departemen Kehakiman sebagai alat pribadi, menjadikan kesetiaan sebagai satu-satunya ukuran, dan menjadikan fakta sebagai kanvas yang dapat dicoret-coret sesuka hati, adalah ancaman terbesar bagi semangat supremasi hukum di negeri ini. Ketika ia murka pada seorang jaksa yang mengikuti bukti, yang benar-benar ia lawan adalah kebenaran itu sendiri.
