GELORA.CO — Kelalaian dalam pengelolaan bahan makanan diduga menjadi pemicu keracunan massal yang dialami 353 siswa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan, hasil investigasi sementara menemukan sekitar 200 hingga 300 ekor ikan tidak disimpan di dalam freezer. Ikan tersebut dibiarkan pada suhu ruang selama sekitar 12 jam sebelum diolah.
Menurut Sudaryono, kondisi itu merupakan pelanggaran serius dalam pengelolaan bahan pangan. Bahan makanan, terutama ikan basah, tidak boleh dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang karena berisiko mengalami kerusakan dan menyebabkan gangguan kesehatan.
“Kelalaian itu ada di pengelolaan. Bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, tapi ada sekitar 200-300 ekor ikan tidak masuk freezer, itu di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 jam,” kata Sudaryono di RS Haji Medan.
Sudaryono menegaskan kelalaian tersebut tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut keselamatan anak-anak yang menjadi penerima manfaat program MBG.
“Ikan basah ditaruh di suhu ruangan itu suatu kebodohan menurut saya, kelalaian ya. Khilafnya itu menyangkut nyawa seseorang. Dapur itu tidak boleh ada kelalaian,” tegasnya.
Kasus tersebut menjadi sorotan serius karena program MBG seharusnya menjamin makanan yang diberikan kepada siswa memenuhi standar keamanan dan kelayakan pangan.
Sementara itu, kondisi para korban dilaporkan mulai membaik setelah mendapat penanganan medis. Salah seorang siswa yang sebelumnya menjalani perawatan intensif di ICU RS Haji Medan disebut menunjukkan perkembangan positif.
“Saya sudah lihat kondisinya, sudah hari ketiga di ICU anak. Kondisi yang kami terima menurut laporan dokter yang merawatnya, kondisinya sudah berangsur membaik. Sudah lebih baik, tapi masih di ICU,” ujar Sudaryono.
Ia berharap kondisi korban terus membaik sehingga dapat segera dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan biasa
Sumber: monitorIndonesia
