GELORA.CO -Penyelenggara festival musik diminta bertanggung jawab atas dugaan penggunaan ayat Al-Quran dalam aktivitas promosi minuman beralkohol merek Newport.
Penggunaan materi tersebut dinilai tidak sekadar menyangkut kreativitas pemasaran, tetapi juga berkaitan dengan etika bisnis serta penghormatan terhadap nilai agama dan kehidupan sosial masyarakat.
Anggota Komisi VI DPR RI, Kawendra Lukistian, mengecam dugaan promosi tersebut dan meminta persoalan itu ditindaklanjuti secara serius.
"Kalau benar ayat Al Quran digunakan untuk mempromosikan minuman keras, ini bukan sekadar salah strategi marketing. Ini sudah menyentuh wilayah sensitivitas agama dan etika bisnis yang harus kita sikapi secara serius," ujar Kawendra dalam keterangannya, Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurutnya, penyelenggara maupun pihak terkait tidak boleh menjadikan kreativitas pemasaran sebagai alasan untuk mengabaikan batas kepatutan dalam mempromosikan produk.
Kawendra juga mendorong Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) melakukan investigasi untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran dalam aktivitas promosi tersebut.
"Saya mendorong BPKN untuk menginvestigasi secara menyeluruh. Kalau ditemukan pelanggaran, jangan berhenti pada permintaan maaf atau klarifikasi. Harus ada tindakan dan sanksi yang tegas sesuai aturan," tegasnya.
Selain BPKN, Kementerian Perdagangan diminta mengevaluasi aspek perizinan dan distribusi produk apabila hasil investigasi menemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.
Ia menilai pelaku usaha tetap memiliki ruang untuk berinovasi dalam memasarkan produknya. Namun, kebebasan tersebut tidak boleh mengabaikan norma agama dan kepatutan.
"Ruang usaha terbuka lebar. Kreativitas marketing juga penting. Tetapi jangan sampai kreativitas mengorbankan moralitas dan sensitivitas agama demi mengejar penjualan. Ini yang harus menjadi batas bersama," kata Kawendra.
Kasus tersebut sebelumnya menjadi perhatian publik setelah video aktivitas promosi di booth sponsor Newport pada gelaran The Sounds Project, 9 Agustus 2026, beredar di media sosial. Dalam video tersebut, pengunjung merekam aktivitas tantangan menghafal surat Ad-Dhuha dengan hadiah minuman beralkohol.
Pihak The Sounds Project kemudian menyampaikan permohonan maaf sekaligus mengecam aktivitas tersebut. Penyelenggara menegaskan kegiatan itu berlangsung di luar pengetahuan, arahan, persetujuan, dan kendali panitia.
"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apapun," ujar pihak The Sounds Project dalam pernyataan resminya, Selasa, 11 Agustus 2026.
Penyelenggara juga menyatakan telah menegur pihak sponsor dan meminta kasus tersebut diselesaikan hingga tuntas. Selain itu, panitia mengawal proses identifikasi pihak-pihak yang terlibat serta melakukan evaluasi internal untuk mencegah kejadian serupa terulang.
"Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, menoleransi bentuk penistaan agama atau tindakan yang menyinggung SARA oleh pihak manapun yang beraktivitas di area acara kami, termasuk sponsor dan mitra kerja sama," tegasnya.
Sumber: RMOL
