BEM UI Sebut Prabowo Ingin Jadi Penguasa Seperti Soeharto -->

BEM UI Sebut Prabowo Ingin Jadi Penguasa Seperti Soeharto

Gelora News
facebook twitter whatsapp
BEM UI Sebut Prabowo Ingin Jadi Penguasa Seperti Soeharto

GELORA.CO -
  Kepala Bidang Sosial Politik BEM UI, Muhammad Hafizh Hernanda mengkritisi gaya kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto yang terkesan ingin menjadi penguasa besar seperti era Orde Baru di masa kepemimpinan Presiden Kedua RI, Soeharto.

Ia lantas menyoroti keserakahan Prabowo. Menurutnya, eks Danjen Kopassus itu membuat banyak kebijakan tanpa memikirkan dampaknya.

"Prabowo pidato yang benar, jangan nafsu, tolong ingat, menurut kami ya sekarang Prabowo itu ingin mengambil seluruh kekuasaan di tangan dia doang, dia ibaratnya ingin menjadi Soeharto terbaru. Kita bisa lihat dair berbagai macam kebijakan-kebijakannya: MBG, Patriot Bond, KDMP, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda dan URI," kata dia saat ditemui sela-sela demo yang digelar di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).

Hafizh menyoroti beberapa program yang terdampak karena program Prabowo yang membutuhkan anggaran besar, seperti sistem transfer keuangan daerah. Saat ini, pemerintah daerah mengeluh kesulitan keuangan.

"Tapi yang kita highlight itu pemotongan TKD, ini menyedihkan, ada ketidakpercayaan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah, padahal pemda sama-sama berguna dengan pemerintah pusat, bayangkan ini yang terjadi di Pati, ketika TKD mereka dipotong dan akhirnya mereka menaikkan pajak, belum lagi kita lihat tax ratio kita, jauh lebih besar dari Malaysia, Singapura, tapi kita masih miskin," ucapnya.

Hafizh juga meminta kepada Prabowo agar berpidato dengan benar dan tidak mengecilkan peran sejumlah kelompok masyarakat. Ketimbang terlalu banyak pidato, Prabowo-Gibran diminta berkerja serius mengatasi berbagai masalah.

"Kepada Prabowo-Gibran, kerja yang benar, jangan ketika sampai teman-teman pers dipanggil Londo Ireng, teman-teman mahasiswa, teman-teman mahasiswa dipanggil mahasewa, kita gak butuh Soekarno yang pidato bla, bla, kita butuh pemimpin yang mendengarkan kita," imbuh dia.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google