GELORA.CO - Di usia yang sudah melewati 81 tahun, Andi Sahrandi tetap dikenal sebagai figur yang tak pernah jauh dari gerakan mahasiswa. Nama itu kembali muncul di ruang publik seiring peluncuran buku Berbagi Senyum: Kisah-kisah yang Menguatkan dari Halaman Belakang Rumah Andi Sahrandi karya Priyantono Oemar, sekaligus di tengah aksi-aksi mahasiswa yang kembali ramai menuju Gedung DPR/MPR.
Andi Sahrandi lahir 31 Desember 1944. Ia lulusan Teknik Penyehatan Lingkungan ITB angkatan 1976. Pada 1998, ia menanggalkan posisi profesionalnya dan bergabung dengan mahasiswa yang menuntut Soeharto turun. Di Kelompok Jenggala—lingkaran eks aktivis 1966 di sekitar pengusaha Arifin Panigoro—ia dipercaya sebagai “Panglima Lapangan” yang berurusan langsung dengan mahasiswa. Rumahnya menjadi markas. Halaman belakang yang luas jadi tempat diskusi, istirahat, dan koordinasi aksi.
Setelah Reformasi, banyak rekannya masuk partai. Andi menolak. Ia memilih kerja kemanusiaan. Bersama Arifin Panigoro, Hadi Basalamah, dan Barayani Muskita, ia mendirikan Posko Jenggala. Ia turun ke lokasi bencana, mulai dari tsunami Aceh 2004—empat hari setelah gelombang datang ia sudah di Lhok Nga, membantu pemakaman massal dan pembangunan hunian sementara—hingga gempa dan banjir di Papua. Dua kali ia hampir meninggal karena serangan jantung, tapi tetap kembali ke lapangan.
Menurut penulis buku tentangnya, Andi Sahrandi adalah angkatan 66 yang pada 1998 turun ke jalan bersama mahasiswa, dan “hingga kini masih aktif mendampingi mahasiswa memperjuangkan demokrasi.” Rumahnya hingga sekarang masih menjadi ruang pertemuan lintas generasi aktivis.
Kaitan itu yang membuat sosoknya relevan setiap kali unjuk rasa mahasiswa kembali menghangat. Aksi-aksi mahasiswa ke DPR, tuntutan soal kebijakan publik, dan gelombang protes yang berulang dari tahun ke tahun sering kali masih melibatkan jaringan senior yang pernah “memelihara” gerakan 1998. Andi tidak selalu tampil di barisan depan dengan megafon. Perannya lebih sebagai pendamping, tempat bertanya, dan pengingat bahwa gerakan mahasiswa punya sejarah panjang—bukan hanya semarak di jalan, tapi juga komitmen setelahnya.
Erros Djarot pernah menilai Andi identik dengan bencana: di mana ada musibah, ia datang. Bagi banyak mahasiswa yang masih turun ke jalan, ia juga identik dengan sesuatu yang lebih lama: kontinuitas perjuangan. Di tengah aksi yang sering berujung ricuh, barikade polisi, dan perdebatan soal siapa yang “membonceng” massa, figur seperti Andi Sahrandi menjadi pengingat bahwa unjuk rasa mahasiswa Indonesia punya akar yang lebih dalam dari satu isu seminggu.
Kini, di usia senja, ia mengaku pasrah jika Tuhan memanggil kapan saja. Namun selama masih ada mahasiswa yang datang ke halaman belakang rumahnya—atau yang meminta pendampingan sebelum turun ke Gatot Subroto—nama Andi Sahrandi tetap terikat dengan satu tradisi: tidak membiarkan generasi baru berjuang sendirian.
