GELORA.CO – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Semarang, menyusul dugaan keracunan massal yang menimpa 693 siswa dan 14 guru SMKN 6 Semarang setelah mengonsumsi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penghentian operasional dilakukan sebagai langkah pencegahan sembari menunggu hasil investigasi menyeluruh terhadap penyebab insiden tersebut. BGN menegaskan keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas utama.
Koordinator Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Hadi Riajaya, mengatakan investigasi dilakukan bersama berbagai instansi, termasuk kepolisian, Dinas Kesehatan, hingga unsur TNI.
"Kemarin kami sudah melakukan investigasi lintas sektor yang melibatkan KPPG Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Polrestabes Semarang, dan Dinas Kesehatan Kota Semarang. Karena itu dapur kami suspend sementara. Bagi kami di BGN, keselamatan penerima manfaat menjadi yang utama dan prioritas," kata Hadi.
Selain menghentikan operasional dapur, tim juga melakukan pemantauan terhadap para korban yang mengalami gejala gangguan kesehatan, baik yang menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit.
"Kami bergerak mengecek kondisi penerima manfaat yang terdampak, mulai dari yang dibawa ke puskesmas hingga yang dirawat inap di rumah sakit. Sampai saat ini terus kami pantau dan evaluasi, termasuk mendalami setiap tahapan kronologis kejadian," ujarnya.
Berdasarkan hasil investigasi sementara, seluruh bahan baku seperti bumbu, ayam, tahu, buah, dan sayuran diterima secara bertahap di SPPG Karangturi pada Rabu (29/7/2026). Proses persiapan dimulai pada malam hari dengan pencucian bahan, pengukusan tahu, serta marinasi ayam.
Selanjutnya, pada Kamis (30/7/2026) dini hari, tim mulai memasak menu MBG yang terdiri atas bumbu rendang, tahu, dan sayuran. Setelah melalui uji organoleptik dan pemeriksaan gramasi oleh ahli gizi sekitar pukul 04.00 WIB, makanan dikemas sebelum didistribusikan ke sekolah dalam dua tahap.
Laporan mengenai munculnya gejala gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare baru diterima pihak SPPG dari sekolah pada Jumat (31/7/2026) pagi.
Hingga kini penyebab pasti dugaan keracunan masih dalam penyelidikan. BGN menyatakan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengadaan bahan, pengolahan, distribusi, hingga penanganan makanan akan terus dilakukan sebelum operasional SPPG kembali dibuka
Sumber: monitorIndonesia
