Setengah Penduduk Batavia Budak Belian, Dibawa untuk Dipelihara Orang Kaya Belanda dan China

Setengah Penduduk Batavia Budak Belian, Dibawa untuk Dipelihara Orang Kaya Belanda dan China

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -
Di balik gemerlapnya Batavia sebagai pusat perdagangan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pada abad ke-17 dan ke-18, tersembunyi kisah kelam perbudakan. Sekitar setengah penduduk kota ini merupakan budak belian yang didatangkan dari berbagai wilayah untuk melayani orang kaya Belanda dan etnis China.

Sejak Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Jayakarta pada 1619 dan mendirikan Batavia, VOC membutuhkan tenaga kerja besar-besaran. Sementara itu, banyak pria Belanda dan China datang tanpa istri, sehingga mereka membutuhkan budak perempuan untuk dijadikan nyai, gundik, atau pelayan rumah tangga.

Menurut sensus tahun 1681, dari total 30.740 penduduk Batavia, sebanyak 15.785 orang atau hampir setengahnya adalah budak. Pada 1730, jumlah budak meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 30 ribu jiwa, menjadikannya kelompok penduduk terbesar di kota tersebut.

Asal Budak dan Perdagangan Mereka


Budak-budak ini dibeli di pasar-pasar budak di India (pantai Malabar dan Coromandel), Bali, Sulawesi Selatan, serta kepulauan Nusantara lainnya. VOC sengaja mendatangkan mereka dari tempat jauh agar sulit melarikan diri atau memberontak secara massal. Pada masa Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra (1761–1775), hampir setiap tahun diimpor sekitar 4.000 budak baru.

Di Batavia, perdagangan budak berlangsung terbuka. Ada tempat lelang khusus, dan budak dijual seperti barang komoditas. Orang kaya Belanda dan China memperlakukan mereka sebagai simbol status. Seorang pejabat VOC seperti van Riemsdijk dikabarkan memiliki lebih dari 200 budak. Bahkan, beberapa nyai atau gundik yang dimerdekakan kemudian memiliki budak sendiri untuk melayani mereka.

Nasib Para Budak


Nasib budak sangat memilukan. Mereka bekerja tanpa upah, tanpa jaminan hukum, dan sering mengalami kekerasan. Budak perempuan kerap dijadikan gundik, sementara budak laki-laki dipekerjakan di rumah tangga, kebun, atau proyek pembangunan kota. Meski demikian, ada kasus di mana budak dimerdekakan, terutama jika mereka memeluk agama Kristen atau memiliki hubungan dekat dengan tuannya.

Perbudakan baru dihapuskan secara resmi pada 1 Januari 1860 di Hindia Belanda, meski praktik itu sudah mulai dikritik sejak awal abad ke-19 oleh kelompok liberal di Belanda dan tokoh seperti Thomas Stamford Raffles.

Kisah perbudakan di Batavia menjadi pengingat kelam bagaimana kota yang kini bernama Jakarta dibangun bukan hanya oleh semangat perdagangan, melainkan juga oleh keringat, air mata, dan darah para budak belian. Warisan sejarah ini masih tercermin dalam arsitektur lama dan cerita rakyat Betawi yang menggambarkan kehidupan masyarakat bawah di masa kolonial. 

Hari ini, mengenang masa lalu ini penting untuk memahami akar multikulturalisme Jakarta yang penuh kompleksitas.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google