Mahfud Prihatin Prabowo Sebut Jurnalis Londo Ireng: Agak Menyakitkan, Dia Sangat Antikritik -->

Mahfud Prihatin Prabowo Sebut Jurnalis Londo Ireng: Agak Menyakitkan, Dia Sangat Antikritik

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis, pengamat, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai 'londo ireng' beberapa waktu lalu.

Londo ireng sendiri adalah istilah Bahasa Jawa yang berarti 'Belanda hitam', merujuk pada tentara sewaan asal Afrika atau pribumi yang bekerja untuk kepentingan kolonial Belanda. Istilah ini sejak dulu berkonotasi negatif sebagai "musuh dalam selimut" atau pengabdi kepentingan asing.

Pernyataan Prabowo itu lantas memicu aksi protes dan kritik dari para jurnalis, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang menilai pelabelan itu sebagai bentuk stigmatisasi terhadap kebebasan pers.

Namun, pihak Istana mengatakan ucapan Prabowo itu tidak bermaksud untuk menyamaratakan seluruh jurnalis hingga LSM sebagai 'londo ireng'.

Menurut Mahfud, ucapan Presiden itu justru menunjukkan bahwa Prabowo antikritik.

"Presiden ini tidak suka pada kritik, selalu mengatakan ini negara demokrasi, silakan kritik pemerintah, tapi sesudah itu menghantam balik para pengkritiknya tanpa penjelasan yang substantif," katanya, Selasa (28/7/2026), dikutip dari YouTube Mahfud MD Official.

"Jadi kalau orang disebut londo ireng itu kalau kritik dia, seperti LSM, pengamat, jurnalis yang paling banyak, itu agak menyakitkan karena londo ireng itu sejarahnya pengkhianatan terhadap perjuangan," ucap Mahfud.

Mahfud lantas menjelaskan bahwa istilah londo ireng pada masa lalu digunakan untuk menyebut orang-orang yang bekerja untuk kolonial Belanda dan membantu upaya penjajah dalam menghancurkan perjuangan bangsa Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah, kata Mahfud, istilah londo ireng mulai dikenal pada masa Perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun. 

Karena kesulitan mengalahkan pasukan Diponegoro, Belanda kemudian mendatangkan tentara dari Minahasa, Benjamin Thomas Sigar, yang disebut sebagai londo ireng karena dikerahkan dari Sulawesi Utara untuk membantu melumpuhkan perlawanan Diponegoro.

"Kerugian Belanda sangat besar sehingga didatangkan Benjamin Sigar di situ, nah di situlah orang Jawa itu menyebut londo ireng, meskipun kulitnya putih tetap disebut londo ireng. Benjamin ini sesudah pulang kan naik pangkat," jelas Mahfud.

Oleh karena itu, Mahfud mengatakan istilah londo ireng merujuk pada tindakan pengkhianatan, sedangkan para jurnalis yang dimaksudnya merupakan pihak yang menyampaikan kritik secara sehat.

"Ketika Pak Prabowo menyebut jurnalis londo ireng, dia sangat antikritik di dalam tindakannya, tetapi ucapannya 'silakan kritik, ini negara demokrasi', tapi ketika ada orang kritik disebut londo ireng," katanya.

Mahfud pun menegaskan bahwa pihak-pihak yang menyampaikan kritik tidak pernah berhubungan dengan pihak asing, justru pemerintah yang dinilainya memiliki hubungan dengan pihak asing.

"Itu kan kaitannya londo ireng itu antek asing karena anteknya Belanda kan, kalau sekarang konteksnya antek asing, sementara kita ini yang kritik-kritik tidak pernah berhubungan dengan (antek) asing, yang berhubungan dengan asing kan pemerintah," ujarnya.

"Kalau kita mana tahu asing, didengar aja ndak sama orang asing, apalagi berhubungan. Jadi sebab itu sangat menyakitkan, sehingga pidato-pidato spontan nampaknya bergurau dari Pak Prabowo itu saya kira perlu dikritik lagi," tegas Mahfud.

Mahfud menyampaikan bahwa pihak yang menyampaikan kritik bukanlah londo ireng, melainkan orang-orang yang mencintai bangsa dan berupaya meluruskan keadaan dengan memberikan solusi, bukan sekadar mengkritik.

"Kalau kita selalu memberi solusi, masa disebut londo ireng. Kalau londo ireng itu tugasnya menumpas gerakan kemerdekaan," tuturnya.
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google