GELORA.CO - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus dibakarnya tiga santri Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, NTB. Kedua tersangka masing-masing berinisial MR, yang merupakan anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), dan pimpinan ponpes berinisial AMR.
Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik menggelar perkara berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan yang telah berlangsung sejak laporan diterima pada Juni 2026. Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol. Mohammad Kholid mengatakan, peristiwa tersebut sebenarnya terjadi pada 13 Desember 2025. Namun, penanganan hukum baru dimulai setelah keluarga korban melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian pada awal Juni 2026.
“Dari hasil pendalaman diketahui terdapat empat korban, yakni dua korban mengalami luka berat, satu korban mengalami luka ringan, dan satu korban meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis,” ujar Kombes Pol Mohammad Kholid saat konferensi pers di Polres Lombok Tengah, Kamis, (9/7/2026) malam.
Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Punguan Hutahaean menjelaskan, peristiwa bermula ketika tersangka MR meminta salah seorang santri membeli bensin eceran. Bensin itu awalnya akan digunakan sebagai pengganti thinner untuk membersihkan atau mengecat ulang dinding kamar yang dipenuhi coretan.
Setelah sebagian bensin digunakan sesuai kebutuhan tersebut, sisa bahan bakar kemudian dibawa ke sebuah ruangan yang sudah tidak digunakan. Di lokasi itu, beberapa santri berkumpul untuk membuat ketapel dengan cara memanaskan kayu agar lebih mudah dibentuk.
“Dari hasil penyidikan diketahui, saat proses tersebut berlangsung tersangka menuangkan bensin ke media yang sedang terbakar. Api kemudian menyambar sisa bensin di dalam botol hingga membesar dan sulit dikendalikan,” terang AKP Punguan.
Dalam situasi panik, tersangka berupaya memadamkan api. Namun kobaran api justru semakin membesar dan merambat ke sejumlah barang di dalam ruangan. Sebagian santri berhasil keluar menyelamatkan diri. Sementara beberapa lainnya sempat terjebak sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh santri lain bersama salah seorang orang tua santri yang berada di lingkungan pondok pesantren.
