GELORA.CO - - Kelompok-kelompok proksi Iran di Timur Tengah terus menyerang wilayah Arab Saudi. Serangan drone maupun rudal ditujukan ke beberapa fasilitas minyak Saudi pada Senin (27/7/2026).
Arab Saudi mencegat beberapa drone yang menargetkan fasilitas minyak di provinsi timur serta wilayah Riyadh.
Kementerian Luar Negeri (Kempu) Arab Saudi menyatakan, pihaknya berhak untuk merespons serangan tersebut. Disebutkan, serangan itu dilakukan oleh kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran yang berkedudukan di Irak.
Secara terpisah, kelompok Houthi Yaman menyatakan juga telah menyerang infrastruktur transportasi minyak mentah Saudi. Namun belum jelas apakah kedua insiden tersebut terkoordinasi atau terpisah.
Serangan ini terjadi di tengah jeda permusuhan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Negara-negara mediator Pakistan dan Qatar menyatakan, peluang AS dan Iran untuk kembali ke meja perundingan meningkat.
Setelah pecahnya perang terbaru selama 2 pekan, beberapa pejabat AS menyampaikan perubahan strategi yang berujung pada penghentian serangan terhadap Iran.
Iran juga menghentikan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah. Meski demikian kelompok-kelompok proksi Iran terus menyerang Saudi serta negara lain.
Selain Arab Saudi, negara lain seperti Yordania dan Irak juga melaporkan serangan drone pada Senin. Militer Yordania menembak jatuh dua drone, sementara sumber keamanan Irak melaporkan serangan terhadap kamp-kamp yang menampung pejuang oposisi Kurdi-Iran di bagian utara negara itu.
Para pejabat tidak mengidentifikasi sumber dari kedua serangan tersebut, namun Yordania dan Irak merupakan lokasi di mana empat anggota militer AS tewas selama perang 2 pekan terakhir.
Pemerintah Irak sedang menyelidiki tuduhan Saudi bahwa drone yang menyerang fasilitas minyaknya ditembak dari wilayahnya.
"(Irak) Tidak akan membiarkan wilayahnya digunakan untuk melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangga,” kata Perdana Menteri Irak, Ali Al Zaidi.
Pada Mei, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mencegat drone yang diluncurkan dari Irak, memicu kecaman Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Serangan itu juga memicu pertanyaan baru tentang kemampuan Irak dalam mengendalikan faksi-faksi bersenjata pro-Iran.
Di Yaman, kelompok Houthi mengumumkan sembilan pejuangnya tewas di tengah meningkatnya konfrontasi militer dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukung oleh koalisi pimpinan Saudi.
Meski perang AS-Iran berhenti, konflik tersebut telanjur menyulut front-front baru yang bisa memperumit penyelesaikan damai
Sumber: inews
