GELORA.CO - Misteri kilatan cahaya hijau terang di langit Yogyakarta serta suara dentuman keras yang menghebohkan warga Cirebon, Sabtu (11/7) malam akhirnya terkuak.
Fenomena alam yang sempat viral di media sosial tersebut dikonfirmasi sebagai aktivitas meteor superterang atau yang dikenal dalam dunia astronomi sebagai boloid.
Ahli Astronomi sekaligus Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Marufin Sudibyo, menjelaskan, kilatan cahaya ekstrem yang disertai fragmentasi (pecahan) dan suara dentuman itu memiliki karakteristik visual dan akustik yang sangat khas.
Menurut Marufin, warna hijau menyala yang terlihat jelas oleh masyarakat merupakan indikator kuat mengenai kandungan unsur kimia yang dibawa oleh benda langit tersebut.
"Cahaya kehijauan sebagai penanda benda langit itu kaya akan Nikel. Meteoroid tertentu, khususnya yang berasal dari fragmentasi asteroid, dikenal sangat kaya akan Besi dan Nikel dalam rasio berat 10 banding 1," ujar Marufin kepada JawaPos.com, Minggu (12/7).
Sementara itu, suara dentuman keras yang terdengar hingga ke wilayah Cirebon dipastikan merupakan kompresi udara atau sonic boom.
Suara ini muncul secara alami akibat deselerasi atau perlambatan kecepatan yang ekstrem saat meteoroid memasuki atmosfer Bumi.
"Perubahan gradual itu melepaskan kerucut sonik secara fisis, yang kemudian tiba di paras Bumi sebagai dentuman sonik," lanjutnya, menjelaskan transisi kecepatan meteoroid dari fase supersonik di awal menjadi subsonik di akhir lintasannya.
Berasal dari Asteroid Dekat-Bumi Kelas Apollo
Berdasarkan analisis data kasar yang dihimpunnya, fenomena ini terpantau melesat dari arah timur laut menuju barat daya pada Sabtu, 11 Juli 2026 pukul 21:40 WIB.
Area ketampakannya membentang luas dari utara Yogyakarta hingga Cirebon, dengan perkiraan panjang lintasan di permukaan Bumi mencapai sekitar 400 kilometer.
Dari data geometris tersebut, Marufin memperkirakan benda langit tersebut awalnya berbentuk meteoroid dengan diameter tergolong kecil, yakni sekitar 1 meter.
"Berdasarkan data kasar yang tersedia, meteor nampak dari timur laut ke barat daya, terjadi pada Sabtu 11 Juli 2026 pukul 21:40 WIB, nampak dari Utara Yogyakarta hingga Cirebon dengan panjang lintasan di permukaan Bumi ~400 km, maka secara kasar meteor ini semula merupakan meteoroid berdiameter sekitar 1 meter," jelasnya.
Benda ini diidentifikasi sebagai bagian dari kepingan asteroid dekat-Bumi (Near-Earth Asteroid) kelas Apollo, yang memiliki jalur orbit mengitari Matahari di antara orbit planet Venus dan Bumi dengan periode revolusi 0,94 tahun.
Apakah Kepingan Asteroid Ini Sampai ke Tanah?
Masyarakat tidak perlu khawatir mengenai potensi dampak benturan di permukaan tanah.
Hasil analisis geometri orbit sementara menunjukkan bahwa batuan luar angkasa ini sudah habis terbakar di udara sebelum sempat menyentuh bumi.
"Kepingan asteroid tadi tidak berhasil menjangkau permukaan Bumi saat menjadi meteor-superterang. Dia hancur di ketinggian 46 sampai 48 kilometer," tegas Marufin.
Menariknya, Marufin juga menambahkan bahwa peristiwa masuknya meteoroid ke atmosfer Bumi dengan skala seperti ini sebenarnya bukan sebuah fenomena yang langka.
Secara statistik global, peristiwa serupa rata-rata terjadi setiap 26 hari sekali di berbagai belahan Bumi.
