GELORA.CO - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa nota kesepahaman dengan Amerika Serikat telah ditandatangani secara elektronik. Berbicara kepada stasiun televisi pemerintah Press TV, Baghaei mengatakan perjanjian tersebut kini telah secara resmi ditandatangani oleh kedua belah pihak secara elektronik.
Kesepakatan diteken Presiden AS Donald Trump dan timpalannya Masoud Pezeshkian. Presiden AS mengatakan kepada wartawan bahwa dia menandatangani MoU dengan Iran di Istana Versailles di ibu kota Prancis, Paris.
“Sudah ditandatangani,” kata Trump ketika meninggalkan Versailles. “Saya menandatanganinya di Versailles,” tambahnya. “Baru saja menandatanganinya.”
Kesepakatan itu berisi 14 poin yang utamanya menyatakan penghentian permanen perang AS-Iran dan semua agresi di kawasan termasuk Lebanon. Pembukaan blokade Selat Hormuz dan kompensasi ekonomi serta pencabutan sanksi untuk Iran juga diatur dalam memorandum.
Sedangkan kantor berita Iran, IRNA telah menerbitkan foto-foto presiden Iran yang menandatangani perjanjian sementara dengan AS dan memegang halaman-halaman yang berisi tanda tangannya dan tanda tangan Trump.
"Teks Nota Kesepahaman untuk mengakhiri perang antara AS dan rezim Zionis melawan Republik Islam Iran ditandatangani pada dini hari Kamis, 18 Juni 1405, oleh presiden Iran dan Amerika Serikat,” lapor badan tersebut.
Memo itu sebelumnya juga ditandatangani secara digital pada Ahad oleh Wakil Presiden JD Vance dan kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan disaksikan oleh Trump.
Menurut Baghei tim perundingan tetap dijadwalkan untuk berkumpul di Jenewa, tetapi pelaksanaan dokumen secara digital berarti tidak akan ada upacara penandatanganan fisik yang diadakan di Swiss.
Ia mengatakan, bokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran awalnya dijadwalkan akan dicabut dalam waktu 30 hari dengan imbalan konsesi transit Iran di Selat Hormuz. Namun, setelah serangan pemerintah Israel terhadap Dahiyeh dan ancaman Iran berikutnya, perundingan segera mengarah pada percepatan penerapan AS, dengan kapal-kapal Iran sudah memasuki dan meninggalkan pelabuhan tanpa gangguan.
Komitmen timbal balik khusus Iran berdasarkan perjanjian tersebut akan secara resmi dimulai setelah dokumen tersebut ditandatangani. Jubir Kemenlu Iran menegaskan, mengamankan gencatan senjata dan mengakhiri perang di Lebanon membawa beban yang sama bagi Teheran seperti halnya kepentingan dalam negeri Iran.
Nama Lebanon muncul tiga kali dalam klausul pertama MoU, yang secara eksplisit mengamanatkan penghormatan terhadap integritas wilayah dan kedaulatan nasional Lebanon. Iran sengaja hanya berfokus untuk mengakhiri perang pada tahap awal ini, dan mengesampingkan masalah nuklir.
Teks yang ditandatangani menguraikan jangka waktu 60 hari yang ketat, yang dimulai segera, untuk bernegosiasi secara eksklusif mengenai program nuklir dan pencabutan sanksi, dengan opsi untuk memperpanjang jika diperlukan.
Kemampuan pertahanan dan program rudal Iran masih belum masuk perundingan. Baghaei menyatakan bahwa rudal negaranya hanya untuk ditembakkan, bukan untuk negosiasi, dan Teheran tidak akan membahas aset pertahanannya dalam proses apa pun atau dengan pihak mana pun.
Namun, Teheran juga siap mengambil tindakan di tengah ketidakpercayaan terhadap AS, kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. "Pesimisme dan ketidakpercayaan saya terhadap Amerika adalah yang terbesar. Bahkan jika perjanjian tersebut sudah final dan disetujui oleh resolusi Dewan Keamanan, perjanjian tersebut tetap tidak dapat dipercaya sama sekali," katanya dalam komentar yang dimuat oleh kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
“Jarak saya dengan medan perjuangan diplomasi tidak jauh dari medan perjuangan militer, dan tangan kamilah yang menjadi pemicunya,” imbuhnya.
Ketika ditanya bagaimana pandangannya mengenai hitungan mundur perundingan 60 hari dengan Iran, Presiden AS Donald Trump mengatakan ini bukanlah tenggat waktu yang sulit. “Selama mereka menjaga sikap, saya sebenarnya tidak terlalu peduli,” katanya.
"Kalau tidak, apakah itu ancaman akan kami bom? Bisa dibilang apa saja, tapi kemungkinan besar akan terjadi," ujarnya.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan dia merasa terhormat mengumumkan bahwa “Memorandum Kesepahaman Islamabad” yang bersejarah telah ditandatangani secara elektronik antara AS dan Iran
Dalam postingannya di X, ia berkata, "Memorandum tersebut telah ditandatangani oleh Presiden kedua negara yang terhormat dan juga didukung oleh saya sebagai mediator. Penandatanganan perjanjian ini di tingkat tertinggi pemerintahan masing-masing menunjukkan komitmen kedua belah pihak terhadap penyelesaian konflik secara diplomatis."
“MoU Islamabad akan segera berlaku dan sebagai langkah awal, Republik Islam Iran akan segera membuka kembali Selat Hormuz dan Amerika Serikat akan segera mencabut blokade laut,” tambahnya.
Shehbaz berkata, “Pakistan dengan dukungan co-mediator Negara Qatar akan menjadi tuan rumah upacara resmi sesuai jadwal pada 19 Juni 2026 di Swiss, untuk memperingati peristiwa penting ini dan memulai perundingan tingkat teknis.”
“Semoga Nota Kesepahaman ini berfungsi sebagai landasan abadi bagi pemahaman yang lebih besar, saling menghormati, dan kesejahteraan bersama bagi seluruh wilayah.”
Eskalasi terkini bermula dari serangan ilegal AS-Israel ke Iran pada Februari lalu. Serangan itu membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan puluhan petinggi militer Iran. Sedikitnya 3.000 lebih warga Iran termasuk anak-anak tak bersalah ikut jadi korban jiwa.
Iran membalas dengan serangan ke puluhan pangkalan AS di negara-negara Teluk dan menutup Selat Hormuz. Sejak April lalu, gencatan sementara disepakati namun saling serang terus terjadi. Israel juga terus menyerang Lebanon yang terseret perang ini.
