Rupiah Anjlok ke Rp 18.000-an, BI Bilang karena Konflik Timur Tengah

Rupiah Anjlok ke Rp 18.000-an, BI Bilang karena Konflik Timur Tengah

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Rupiah Anjlok ke Rp 18.000-an, BI Bilang karena Konflik Timur Tengah

GELORA.CO - 
Bank Indonesia (BI) menyatakan, pelemahan rupiah yang terus terjadi saat ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, konflik yang kembali memanas membuat harga minyak dunia tetap tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi global dan mendorong investor menarik dana dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya," ujar Destry, Kamis, 4 Juni 2026.

merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini sudah tembus Rp 18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026).

Mengutip Bloomberg, Kamis (4/6/2026) pagi, rupiah sudah di atas Rp18.023 per dolar AS, atau melemah 57 poin dari posisi penutupan perdagangan kemarin.

Destry mengatakan, BI akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik. 

Destry bilang, intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. 

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," tegas dia.

Selain itu Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. 

Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bln April mencapai sekitar 22,7 miliar vs full year thn lalu yang sekitar 25,7 miliar.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan. Sejak awal tahun hingga saat ini (year to date/YTD), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen.

Meski demikian, BI menegaskan kondisi ketahanan eksternal Indonesia masih cukup baik. Hal ini tercermin dari cadangan devisa yang tetap tinggi, yakni sebesar USD146,2 miliar pada akhir April 2026. "Cadangan devisa tetap terjaga di level USD146,2 milyar pada akhir April 2026," ucap Destry.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google