GELORA.CO - Peneliti Charta Politika Indonesia Ardha Ranadireksa menilai periode Juni hingga Juli 2026 akan menjadi masa yang krusial bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di tengah tekanan ekonomi global dan domestik.
Hal ini ia sampaikan menanggapi kemungkinan terjadinya eskalasi politik nasional terkait momentum Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 2026, yang diprediksi bakal memanas.
Menurut Ardha, pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indikator yang paling terlihat dari kondisi ekonomi yang sedang melemah.
“Memang periode Juni-Juli cukup krusial di tengah situasi ekonomi saat ini, khususnya Indonesia,” kata Ardha saat dihubungi Inilah.com di Jakarta, Minggu (17/5/2026).
Ia mengatakan, nilai tukar rupiah yang menyentuh titik terendah serta pelemahan IHSG menunjukkan tekanan yang sedang dihadapi perekonomian nasional.
Selain itu, Ardha menyinggung penurunan outlook investasi Indonesia oleh sejumlah lembaga pemeringkat internasional pada awal tahun ini.
“Belum lagi jika kemudian kita masukkan penilaian sejumlah lembaga rating pada Januari/Februari lalu yang menurunkan rating outlook investasi Indonesia yang berkaitan erat dengan melemahnya IHSG,” tuturnya.
Sangat Menentukan Stabilitas
Selanjutnya Ardha menilai terdapat sejumlah faktor yang membuat periode Juni-Juli menjadi sangat menentukan bagi stabilitas ekonomi nasional. Pertama, sejumlah lembaga rating internasional akan kembali mengeluarkan laporan terbaru yang dinilai berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia.
“Yang bukan tidak mungkin akan memiliki imbas negatif ke perekonomian kita, jika penilaian yang diberikan cenderung bersifat negatif,” tuturnya.
Kedua, ia menilai pemerintah akan menghadapi ujian ketahanan fiskal meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi meningkat 5,61 persen.
Menurut Ardha, sejumlah ekonom menilai pertumbuhan tersebut ditopang tingginya belanja pemerintah dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Dinamika Geopolitik
Selain faktor domestik, Ardha mengatakan dinamika geopolitik internasional juga berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap ekonomi Indonesia.
Ia menjelaskan lonjakan harga minyak akibat konflik di Selat Hormuz dapat menjadi tantangan serius bagi pemerintah karena harga minyak dunia sudah melampaui asumsi APBN. “Tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, yang lagi-lagi dihadapkan pada keterbatasan fiskal yang ada,” sambung Ardha.
Adapun yang terakhir, ia juga mengingatkan potensi kekeringan akibat El Nino yang diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun. “Faktor-faktor ini menurut saya perlu disikapi pemerintah secara tepat,” pungkasnya.
