Pelan Tapi Pasti RI Tinggalkan Dolar AS, BI: Transaksi Skema LCT Lompat 3 Kali Lipat

Pelan Tapi Pasti RI Tinggalkan Dolar AS, BI: Transaksi Skema LCT Lompat 3 Kali Lipat

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -
Langkah dedolarisasi atau mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dolar AS (US$), mulai ada titik terang. Karena, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya pertumbuhan signifikan dari transaksi Local Currency Transaction (LCT).

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A Cussoy Intama menerangkan, volume transaksi LCT sepanjang Januari-April 2026 mencapai US$22,61 miliar, atau setara Rp400,19 triliun (kurs Rp17.700/US$).

"Nilai transaksi menggunakan mata uang lokal sepanjang Januari-April 2026, melonjak 309 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 7,33 miliar dolar AS," papar Ruth di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), dikutip Minggu (24/5/2026).

Kenaikan ini, kata dia, mencerminkan makin besarnya penggunaan mata uang domestik dalam perdagangan dan transaksi lintas negara. Pertumbuhan transaksi LCT ini, menunjukkan semakin kuatnya upaya Indonesia menekan ketergantungan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian global. "Ini baru Januari sampai April. Semoga terus naik ya, baik volume maupun pelakunya," ujar Ruth saat media briefing di Makassar, Jumat (21/6/2026).

Dalam implementasi LCT ini, China menjadi mitra terbesar Indonesia dengan kontribusi 89 persen dari total transaksi. Disusul Jepang dan Malaysia masing-masing 6 persen dan 3 persen.

"Tren penggunaan mata uang lokal kini semakin berkembang karena banyak negara mulai menyadari pentingnya efisiensi transaksi bilateral, terutama saat tensi perdagangan internasional meningkat," imbuhnya.

Sebelumnya, kata Ruth, sejumlah negara masih menunda implementasi kerja sama transaksi mata uang lokal (LCT), kini mulai mempercepat realisasinya.

"Dengan pertimbangan tertentu, mereka pasti punya pertimbangan tertentu seperti kita juga. Tetapi akhirnya mereka menyadari, ayo deh kita segerakan," katanya.

Namun demikian, kata Ruth, penggunaan mata uang lokal bukan berarti meninggalkan dolar AS sepenuhnya. Nyatanya, dolar AS tetap menjadi mata uang utama dalam sistem keuangan global. Hanya saja, negara-negara dengan hubungan perdagangan langsung yang besar dengan Indonesia, menggunakan mata uang domestik karena lebih efisien ketimbang harus dikonversi ke dolar AS.

"Untuk negara-negara yang memang transaksinya banyak langsung, bisa dengan (mata uang) domestik, kenapa kita harus pakai dolar AS dulu? Karena kalau muter, namanya muter, udah pasti ada middleman, udah pasti enggak efisien," ungkapnya.

Asal tahu saja, LCT merupakan mekanisme transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal yang dilakukan melalui bank yang ditunjuk, atau Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) oleh bank sentral dari masing-masing negara.

Melalui skema ini, eksportir dan importir dapat bertransaksi langsung menggunakan mata uang domestik tanpa harus memakai dolar AS sebagai mata uang perantara. Saat ini implementasi LCT Indonesia telah berjalan dengan Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura. BI juga tengah memperluas kerja sama dengan sejumlah negara lain, termasuk India dan Arab Saudi.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google