GELORA.CO - Dalam beberapa hari terakhir, Angkatan Laut AS menempatkan kapal induk di lepas pantai Kuba. Penempantan kapal itu dilakukan berbarengan dengan langkah Gedung Putih memperluas sanksi terhadap para pemimpin Havana.
Jaksa federal AS telah mendakwa mantan Presiden Kuba Raúl Castro dengan tuduhan pembunuhan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio, berbicara kepada wartawan, mengatakan kemungkinan kesepakatan dengan pemerintah komunis Kuba terbilang kecil.
Menurut laporan Los Angeles Times, berbulan-bulan setelah blokade minyak sehingga memicu pemadaman listrik di Kuba, pemerintahan Trump telah meningkatkan kampanye tekanannya terhadap Havana.
Peningkatan itu bahkan telah menimbulkan pertanyaan tentang apakah Kuba akan menjadi target AS berikutnya seperti Venezuela dan Iran. AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari dan sebulan kemudian membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Para pejabat di Kuba, yang mengecam dakwaan terhadap Castro sebagai 'tindakan politik' sebagai sebuah alasan invasi, mengatakan, mereka sedang bersiap untuk perang.
Carlos Fernández de Cossío, wakil menteri luar negeri Kuba, mengatakan meskipun negara itu berharap untuk menghindari konflik, Havan sedang memperkuat pertahanan mereka. "Kita akan naif" jika tidak melakukannya, katanya.
Selama berpekan-pekan, Kuba telah menyebarkan pamflet di antara warganya yakni tentang "Panduan Keluarga untuk Perlindungan Terhadap Agresi Militer."
Pamflet itu menyatakan bahwa AS mengancam akan melancarkan serangan militer dan menghancurkan masyarakat Kuba dengan tujuan melanggengkan kapitalisme dan memusnahkan impian Panglima Tertinggi kita, Fidel Castro.
Dokumen tersebut menginstruksikan keluarga untuk menyiapkan perlengkapan bertahan hidup, mencari tempat berlindung jika mendengar sirene serangan udara, dan memberikan petunjuk pertolongan pertama untuk hal-hal seperti mengikat perban.
“Jika musuh menyerang, revolusi kita akan membela diri hingga kemenangan tercapai dan agresor diusir,” demikian bunyi dokumen itu.
Warga Kuba mengamati perkembangan ini dengan cemas, tetapi tetap fokus pada urusan sehari-hari untuk bertahan hidup.
Pengiriman minyak mentah pada April — salah satu dari sedikit pengiriman minyak tahun ini — telah habis.
Menteri Energi dan Pertambangan Kuba mengumumkan minggu ini bahwa negara tersebut kekurangan bahan bakar untuk menggerakkan jaringan listriknya yang sudah usang dan bergantung pada minyak domestik dan panel surya.
“Kami tidak memiliki cadangan lagi,” katanya.
Krisis energi telah menjerumuskan sebagian besar negara ke dalam kegelapan, dengan banyak rumah hanya menerima listrik beberapa jam setiap hari. Makanan langka atau membusuk karena kurangnya pendingin. Beberapa sekolah ditutup. Mobil dan bus tidak beroperasi hingga rumah sakit kekurangan daya untuk ventilator.
“Kuba sedang mengalami krisis,” kata Michel Fernández Pérez dari organisasi nonpemerintah Cuba Próxima yang berbasis di Florida.
“Ini adalah negara di ambang krisis yang fatal. Orang-orang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan sebagian besar hampir tidak memiliki harapan bahwa keadaan akan benar-benar membaik.”
AS dan Kuba telah terlibat dalam pembicaraan selama berbulan-bulan, dengan para pejabat Amerika menuntut perombakan ekonomi yang dikelola negara dan sistem politik satu partai di pulau itu. Pekan lalu, Direktur CIA John Ratcliffe melakukan perjalanan ke Havana untuk melakukan pembicaraan.
Namun para pemimpin Kuba tampaknya tidak mau membuat konsesi besar. Havana telah mengatakan secara terbuka bahwa mereka tidak percaya AS bertindak dengan itikad baik.
“Jelas sekali, hal itu tidak membantu iklim dialog dan kepercayaan karena setiap hari ada pernyataan seperti, ‘Kami siap mengambil alih Kuba,’” kata duta besar Kuba untuk PBB kepada New York Times minggu ini.
“Retorika yang memicu perang tidak membantu.”
Dakwaan agresif
Dakwaan terhadap Castro, saudara laki-laki mendiang pemimpin revolusioner Fidel yang berusia 94 tahun, mungkin merupakan langkah paling agresif yang pernah dilakukan Amerika Serikat.
Castro, yang menjabat sebagai menteri pertahanan pada tahun 1990-an, didakwa memerintahkan penembakan jatuh dua pesawat di wilayah Kuba padn 1996 yang diterbangkan oleh anggota Brothers to the Rescue, sebuah kelompok pengasingan Florida yang menentang rezim Castro.
Empat orang tewas. Catatan publik menunjukkan bahwa pejabat Kuba mengatakan bahwa mereka menyerang pesawat-pesawat itu hanya setelah mencoba melalui jalur diplomatik rahasia untuk menghentikan penerbangan tersebut.
Saat mengumumkan dakwaan di Miami pada Rabu, Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche memuji kasus ini sebagai langkah penting menuju keadilan. Ia percaya Castro pada akhirnya akan datang ke AS untuk diadili.
“Ada surat perintah penangkapan yang dikeluarkan untuknya,” katanya. “Jadi kami berharap dia akan datang ke sini, atas kemauannya sendiri atau dengan cara lain.”
Namun, apa yang dimaksud dengan 'cara lain' masih belum jelas, dan Blanche mengatakan itu adalah masalah bagi Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri.
Matt Duss, wakil presiden eksekutif di Center for International Policy, sebuah lembaga think tank progresif, mengatakan Presiden Trump tampaknya sedang dalam jalur perang.
“Sekali lagi dia membawa kita ke dalam konflik tanpa alasan yang jelas,” kata Duss, dan merujuk pada operasi di Venezuela dan Iran.
Pada Maret, Trump mengatakan bahwa ia akan merasa terhormat untuk menguasai Kuba.
"Saya dapat melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya."
Pada Kamis, ia membantah bahwa pemerintahannya berupaya mengintimidasi Havana ketika ditanya tentang penempatan USS Nimitz di dekat Kuba.
"Sama sekali tidak," kata Trump kepada wartawan selama acara di Ruang Oval.
Ia kemudian menggambarkan Kuba sebagai 'negara gagal'. Ia mengatakan bahwa untuk alasan kemanusiaan Washington berupaya membantu mereka.
"Presiden lain telah mempertimbangkan hal ini selama 50, 60 tahun, untuk melakukan sesuatu," katanya. "Dan tampaknya sayalah yang akan melakukannya."
Sebuah jajak pendapat baru-baru ini oleh El Toque, sebuah situs berita Kuba, menemukan bahwa 56% penduduk pulau itu mendukung intervensi militer AS.
“Itulah tingkat keputusasaan yang saat ini mencengkeram rakyat Kuba,” kata Fernández, yang membandingkan warga Kuba.
Di Kuba, kemarahan telah meningkat terhadap pemerintah atas pemadaman listrik dan puluhan tahun salah urus ekonomi. Namun, protes sporadis dengan cepat diredam.
Pemerintah, sebagai bentuk unjuk kekuatan, mengorganisir protes besar untuk membela Castro di kawasan pejalan kaki tepi laut Havana pada Jumat.
