AS-Eropa Merinding, Rudal Setan II Rusia Mampu Lumat Mereka dalam Puluhan Menit

AS-Eropa Merinding, Rudal Setan II Rusia Mampu Lumat Mereka dalam Puluhan Menit

Gelora News
facebook twitter whatsapp
AS-Eropa Merinding, Rudal Setan II Rusia Mampu Lumat Mereka dalam Puluhan Menit

GELORA.CO
- Rusia kembali memamerkan kekuatan strategis nuklirnya setelah mengumumkan keberhasilan uji coba rudal balistik antarbenua RS-28 Sarmat atau yang dijuluki NATO sebagai “Satan II”.

Rudal yang disebut sebagai salah satu senjata paling mematikan di dunia itu diluncurkan dari Kosmodrom Plesetsk di wilayah Arkhangelsk dan diklaim berhasil menghantam target di lapangan uji Kura di Semenanjung Kamchatka, Timur Jauh Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin memantau langsung peluncuran tersebut melalui sambungan video dari pusat komando Kremlin. Setelah menerima laporan dari Komandan Pasukan Rudal Strategis Rusia Sergei Karakayev, Putin menyebut uji coba itu sebagai “peristiwa besar” dan “keberhasilan tanpa syarat”.

Putin kemudian menyampaikan pernyataan yang langsung menjadi perhatian dunia. “Ini adalah sistem rudal paling ampuh di dunia,” kata Putin sebagaimana diberitakan The Barents Observer pada Selasa 12 Mei 2026.

RS-28 Sarmat merupakan rudal balistik antarbenua generasi baru yang dikembangkan Rusia untuk menggantikan rudal era Soviet R-36. Rudal berbobot lebih dari 200 ton ini dirancang sebagai tulang punggung kekuatan nuklir strategis Moskow di tengah meningkatnya ketegangan dengan Barat.

Yang membuat Sarmat sangat ditakuti bukan hanya ukurannya, tetapi juga kemampuan destruktifnya. Rudal ini diperkirakan memiliki jangkauan hingga sekitar 18 ribu kilometer, cukup untuk menyerang hampir seluruh wilayah dunia dari dalam teritori Rusia.

Kremlin juga mengklaim Sarmat dapat terbang melalui jalur tidak biasa, termasuk melintasi Kutub Selatan, untuk menghindari radar dan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat serta NATO.

Kecepatan dan Daya Jelajah


Sarmat juga disebut mampu melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 20 atau sekitar 24 ribu kilometer per jam pada fase tertentu penerbangannya. Dengan kecepatan setinggi itu, waktu respons negara lawan menjadi sangat singkat.

Jika diarahkan ke Washington, rudal ini diperkirakan dapat mencapai target dalam waktu sekitar 20 hingga 30 menit, tergantung jalur penerbangan dan lokasi peluncuran. Dalam skenario nyata, para pemimpin negara hanya memiliki beberapa menit untuk memastikan apakah peluncuran tersebut benar-benar serangan nuklir atau sekadar alarm palsu sebelum memutuskan respons militer.

Situasi bahkan lebih menegangkan bagi Eropa. Jika diluncurkan dari wilayah Rusia menuju Inggris, Sarmat diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 20 menit untuk mencapai target. Karena jaraknya lebih dekat, negara-negara NATO di Eropa memiliki waktu yang jauh lebih sedikit untuk mendeteksi ancaman dan mengambil keputusan.

Di balik kecepatannya, daya ledak Sarmat menjadi aspek yang paling mengkhawatirkan. Jauh berbeda dari rudal biasa yang hanya membawa satu bom, Sarmat dirancang membawa banyak hulu ledak nuklir independen atau MIRV. Artinya, satu rudal dapat menyerang banyak kota atau banyak target sekaligus dalam satu peluncuran.

Menurut berbagai estimasi militer Barat, satu hulu ledak Sarmat bisa memiliki daya ledak hingga sekitar 1 megaton TNT atau lebih. Sebagai perbandingan, bom atom yang menghancurkan Hiroshima pada 1945 memiliki kekuatan sekitar 15 kiloton. Artinya, satu hulu ledak modern Sarmat bisa puluhan kali lebih kuat dibanding bom Hiroshima.

Jika satu hulu ledak berkekuatan sekitar 1 megaton meledak di atas kota besar, hampir seluruh bangunan dalam radius sekitar 3 hingga 5 kilometer dapat hancur total akibat gelombang kejut dan suhu ekstrem. Area kehancuran ini kira-kira setara dengan kawasan inti Jakarta Pusat.

Dalam radius sekitar 10 hingga 15 kilometer, kebakaran besar, kerusakan bangunan berat, luka bakar massal, dan korban jiwa dalam jumlah sangat besar kemungkinan terjadi. Luas dampaknya dapat mendekati gabungan wilayah Jakarta Pusat hingga sebagian Jakarta Selatan atau Jakarta Barat.

Namun dampak perang nuklir tidak berhenti pada ledakan awal. Para ilmuwan selama puluhan tahun memperingatkan ancaman lanjutan berupa badai api, radiasi mematikan, runtuhnya infrastruktur, gangguan listrik dan komunikasi, hingga kemungkinan terjadinya nuclear winter atau musim dingin nuklir akibat debu dan asap yang menyelimuti atmosfer bumi.

Karena itu, dalam doktrin militer modern, senjata seperti Sarmat sebenarnya bukan dibuat untuk digunakan dalam perang biasa. Fungsi utamanya adalah deterrence atau penangkal, menciptakan ancaman kehancuran total agar negara lain berpikir berkali-kali sebelum menyerang Rusia.

Konsep ini dikenal sejak era Perang Dingin sebagai Mutually Assured Destruction (MAD), yaitu kondisi ketika perang nuklir diyakini akan menghancurkan semua pihak yang terlibat. Dalam logika tersebut, senjata nuklir justru dipertahankan bukan untuk dipakai, melainkan agar tidak pernah digunakan sama sekali.

Meski Rusia menyebut uji coba terbaru ini berhasil, sebagian analis Barat masih meragukan apakah seluruh kemampuan Sarmat benar-benar sudah matang. Sebelumnya, beberapa pengujian rudal tersebut dilaporkan mengalami kegagalan pada 2023 dan 2024.

Namun di tengah runtuhnya Perjanjian New START antara Rusia dan Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik global, kemunculan kembali rudal-rudal raksasa seperti Sarmat membuat dunia kembali diingatkan pada bayang-bayang perlombaan nuklir yang pernah menghantui umat manusia pada era Perang Dingin.

Masa Depan Perjanjian Senjata Nuklir


Di tengah memburuknya hubungan Rusia dan Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik global, kemunculan kembali rudal-rudal raksasa seperti Sarmat membuat dunia kembali diingatkan pada bayang-bayang perlombaan nuklir era Perang Dingin.

Situasi itu semakin mengkhawatirkan setelah melemahnya Perjanjian New START, yaitu kesepakatan pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington. Perjanjian yang mulai berlaku pada 2011 tersebut selama ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis, rudal balistik antarbenua, kapal selam nuklir, dan pembom strategis yang boleh dimiliki kedua negara.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres angkat suara terkait hal ini. “Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, dunia menghadapi situasi tanpa batasan mengikat terhadap arsenal nuklir strategis Rusia dan Amerika Serikat,” kata Guterres beberapa waktu lalu sebagaimana diberitakan media Barat.

Guterres menyebut berakhirnya New START sebagai “grave moment” atau “momen yang sangat serius” bagi perdamaian dan keamanan dunia. Ia memperingatkan bahwa runtuhnya sistem pengendalian senjata nuklir terjadi pada saat risiko penggunaan senjata nuklir berada pada titik tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Bukan hanya membatasi jumlah senjata, New START juga memiliki mekanisme inspeksi dan pertukaran data yang memungkinkan Rusia dan Amerika saling memantau kekuatan nuklir masing-masing. Sistem ini dianggap penting untuk mencegah salah perhitungan militer dan menjaga stabilitas strategis global.

Namun setelah perang Ukraina pecah, hubungan kedua negara memburuk tajam. Rusia kemudian menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian tersebut pada 2023, termasuk menghentikan mekanisme inspeksi dan pertukaran data dengan Amerika Serikat. Meski New START secara formal masih berlaku hingga Februari 2026, banyak analis menilai sistem pengendalian senjata nuklir dunia kini praktis mulai melemah.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran baru bahwa dunia sedang bergerak menuju fase perlombaan senjata strategis berikutnya. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, negara-negara besar dikhawatirkan akan kembali berlomba mengembangkan rudal, hulu ledak nuklir, dan teknologi militer strategis baru seperti yang pernah terjadi pada puncak Perang Dingin abad ke-20.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google