GELORA.CO - Permintaan gencatan senjata dengan Iran dilaporkan mulai didesak pihak Amerika Serikat. Langkah ini di tengah kerugian besar yang diderita militer AS sejak melancarkan serangan bersama Israel ke Iran.
Patut dicatat, AS dan Israel membayangkan serangan ke Iran akan berlangsung lekas dalam hitungan hari hingga tiga pekan. Namun sampai memasuki bulan kedua, Iran belum menyerah sementara perang terus menggerogoti pundi-pundi Amerika.
Lebih dari satu bulan sejak dimulainya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, gambaran umum konflik yang menelan biaya besar mulai terlihat. Perang ini tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga merambah aspek ekonomi global serta kesiapan militer Amerika Serikat sendiri.
Sejumlah laporan media Amerika dan Prancis, yang diperkuat analisis lembaga riset, menunjukkan meningkatnya kerugian yang harus ditanggung Washington. Selain biaya operasi yang mencapai puluhan miliar dolar dalam hitungan pekan, kerugian material berupa pesawat dan peralatan militer juga terus terungkap.
Majalah Prancis L'Express melaporkan hancurnya pesawat pengintai canggih AWACS milik Amerika dalam serangan Iran yang menargetkan Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi pada akhir Maret. Nilai pesawat tersebut diperkirakan mendekati 500 juta dolar AS, menjadikannya salah satu kerugian paling signifikan secara simbolik dan material.
Kerugian ini bukan insiden tunggal. Laporan analisis yang diterbitkan The Atlantic mengungkap bahwa Angkatan Udara AS kehilangan sejumlah pesawat penting dalam beberapa hari belakangan, termasuk jet tempur dan pesawat pendukung logistik.
Amerika Serikat dilaporkan kehilangan empat jet tempur F-15E Strike Eagle, tiga di antaranya akibat insiden tembakan kawan sendiri pada awal konflik, sementara satu lainnya ditembak jatuh oleh Iran. Nilai setiap pesawat diperkirakan sekitar 90 juta dolar AS.
Selain itu, sedikitnya empat pesawat pengisian bahan bakar KC-135 juga tak bisa beroperasi. Salah satunya jatuh akibat tabrakan di udara yang menewaskan seluruh awak, sementara lainnya rusak akibat serangan rudal Iran. Setiap unit pesawat ini bernilai sekitar 80 juta dolar AS.
Pesawat peringatan dini E-3 Sentry yang juga hancur dalam serangan tersebut diperkirakan membutuhkan biaya hingga 1 miliar dolar AS untuk penggantiannya, atau setara dengan biaya operasi militer selama satu hari.
Laporan The Atlantic menyoroti ketimpangan biaya dalam konflik ini. Amerika Serikat menghadapi persenjataan berbiaya rendah seperti drone Iran yang hanya bernilai 20 ribu hingga 50 ribu dolar AS, sementara rudal pencegat canggih AS bernilai antara 3 hingga 5 juta dolar AS per unit. Kondisi ini dinilai mencerminkan ketidakseimbangan strategi biaya, di mana Iran mampu memproduksi puluhan drone dengan biaya satu rudal pencegat.
Dalam aspek finansial, L’Express memperkirakan total biaya perang telah mencapai 20 hingga 28 miliar dolar AS dalam beberapa pekan. Sementara itu, Kongres AS menyebut pengeluaran harian sempat melampaui 1 miliar dolar AS sebelum menurun menjadi sekitar 500 juta dolar AS seiring melambatnya operasi.
Surat kabar The Daily Pennsylvanian mengutip model anggaran dari Universitas Pennsylvania yang memperkirakan total biaya dapat mencapai 27 hingga 28 miliar dolar AS, bahkan berpotensi meningkat hingga 47 miliar dolar AS pada akhir April.
Biaya tambahan juga muncul dalam operasi penyelamatan pilot. Media Australian Financial Review mengutip jurnalis Michael Weiss yang menyebutkan bahwa satu operasi penyelamatan dapat menelan biaya hingga 300 juta dolar AS, termasuk kerugian pesawat Hercules yang masing-masing bernilai lebih dari 100 juta dolar AS.
Menurut Weiss, langkah tersebut mencerminkan komitmen militer AS dalam menyelamatkan personelnya. Namun, analis militer Andrew Fox menilai operasi tersebut menyebabkan kerugian material besar untuk misi singkat.
Dalam insiden tersebut, satu pesawat Hercules dan dua helikopter Little Bird hancur. Amerika Serikat menyatakan pesawat sengaja dihancurkan untuk mencegah jatuh ke tangan Iran, sementara Iran mengklaim berhasil menembaknya.
Kerugian juga mencakup jatuhnya pesawat tempur A-10 Warthog saat libur Paskah, kerusakan helikopter Black Hawk akibat tembakan musuh, serta ditembak jatuhnya dua drone Reaper.
Dampak konflik tidak berhenti pada kerugian langsung. The Daily Pennsylvanian mencatat adanya beban jangka panjang, termasuk biaya perawatan ratusan tentara yang terluka serta kerugian tidak langsung yang mencapai miliaran dolar.
Sementara itu, laporan Center for Strategic and International Studies memperingatkan bahwa persediaan amunisi canggih AS, seperti rudal Tomahawk dan sistem Patriot, mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kesiapan militer AS di kawasan lain.
Laporan tersebut juga menyoroti dampak global, termasuk kenaikan harga energi dan pupuk yang dapat mendorong perekonomian dunia ke arah resesi.
