Ray Rangkuti Sentil Reshuffle Kelima Kabinet Prabowo: Cuma Putar Posisi, Miskin Perubahan!

Ray Rangkuti Sentil Reshuffle Kelima Kabinet Prabowo: Cuma Putar Posisi, Miskin Perubahan!

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Ray Rangkuti Sentil Reshuffle Kelima Kabinet Prabowo: Cuma Putar Posisi, Miskin Perubahan!

GELORA.CO -
Langkah Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet untuk kelima kalinya langsung menuai sorotan tajam.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti, menilai perubahan susunan kabinet kali ini kali ini belum menunjukkan arah pembaruan yang nyata.

Menurut Ray, pergantian pejabat justru memperlihatkan pola lama; figur yang sama dipindah ke posisi berbeda atau kembali masuk pemerintahan setelah sebelumnya dicopot.

Sindiran 'I Tu Si' alias Itu-Itu Saja


Ray membuka komentarnya dengan istilah khas Mandailing untuk menggambarkan reshuffle terbaru.

"Mengutip istilah orang Mandailing: i tu si. Artinya itu itu saja. Begitulah situasi reshuffle yang baru saja dilakukan oleh presiden Prabowo. Mengangkat kembali orang yang pernah diberhentikan, lalu merotasi yang lain dari satu tempat ke tempat lainnya," kata Ray dalam pernyataan tertulisnya kepada Konteks.co.id, Selasa, 28 April 2026.

Ia menilai perombakan kabinet belum memberi kejutan politik karena wajah-wajah yang muncul masih berasal dari lingkaran lama kekuasaan.

Jumhur Hidayat Satu-satunya Figur Baru


Dalam pandangan Ray, hanya satu nama yang benar-benar tampil sebagai sosok baru dalam susunan kabinet hasil reshuffle tersebut.

"Satu-satunya yang baru hanyalah wajah Jumhur Hidayat. Seorang pegiat buruh dan TKI, kini, menjabat sebagai menteri lingkungan hidup," kata dia.

Masuknya Jumhur Hidayat lanjut Ray, disebut menjadi satu-satunya elemen segar di tengah dominasi nama lama.

Rotasi Internal, Bukan Perubahan Besar


Mantan aktivis 98 itu menilai, makna reshuffle di era Prabowo lebih banyak sebatas penataan ulang jabatan di lingkaran orang dekat presiden.

"Lagi-lagi, makna reshuffle bagi Prabowo tidak lebih dari memutar-mutar posisi di antara orang-orangnya sendiri. Dan umumnya merotasi posisi jabatan-jabatan di luar yang ditempati oleh kader parpol," kritiknya.

Jabatan Nonpartai Paling Sering Diutak-atik


Ray juga menyoroti bahwa reshuffle selama ini lebih sering menyasar pejabat dari kalangan nonpartai dibanding kader partai politik pendukung pemerintah.

"Sudah lima kali reshuffle, sepanjang itu yang terus diutak atik hanyalah jabatan yang berkisar di lingkungan non parpol. Satu-satunya anggota kabinet dari parpol yang pernah direshuffle oleh Prabowo hanyalah Dito Ariotedjo (Golkar)," sebut Ray.

Nama Dito Ariotedjo disebut sebagai pengecualian dalam pola reshuffle tersebut.

Politik Harmoni Jadi Penjelasan


Menurut Ray, pola itu tidak terlepas dari gaya politik Prabowo yang lebih mengutamakan kestabilan koalisi ketimbang manuver besar.

"Hal ini tidak luput dari filosofi politik Prabowo yang lebih memilih politik 'harmoni' dari pada politik perubahan. Politik harmoni membuat Prabowo kesulitan menciptakan aktor baru dan berselancar untuk mendapatkan figur ideal," tuturnya.

Lebih jauh Ray menilai, pendekatan harmoni memang menjaga suasana koalisi tetap tenang, tetapi di sisi lain membatasi ruang regenerasi.

Prabowo juga menurutnya lebih memilih mempertahankan komposisi lama ketimbang membuka ruang bagi tokoh baru yang bisa memunculkan gejolak.

"Prabowo dikunci oleh pandangan lebih baik apa yang ada, dari pada membuat baru yang potensial menimbulkan kegaduhan. Dan karena itu pulalah, reshuffle ini, selain i tu si, juga kuat bernuansa perkawanan," sindirnya.

Selain soal stabilitas, Ray menyebut unsur loyalitas dan hubungan personal ikut berpengaruh dalam keputusan reshuffle.

"Bagi Prabowo, kawan tidak boleh ditinggal. Sekalipun sudah pernah diberhentikan, pernah melakukan hal kontroversial, kini, diajak kembali masuk istana," ujar Ray menandaskan.***
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita