GELORA.CO - Pihak berwenang sedang menyelidiki sebuah catatan yang diduga kuat ditulis oleh tersangka serangan acara makan malam Gedung Putih, Sabtu (25/4/2026).
Isi catatan tersebut mengungkap kemarahan mendalam tersangka terhadap berbagai kebijakan dan tindakan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Tulisan itu dibagikan kepada The New York Times oleh dua petugas penegak hukum, yang meminta identitas mereka dirahasiakan karena tidak berwenang mengungkapkan informasi tersebut.
Tersangka yang diidentifikasi sebagai Cole Tomas Allen (31) dari Torrance, California, berada dalam tahanan dan diperkirakan akan didakwa dengan berbagai kejahatan dalam sidang pengadilan pada Senin (26/4/2026).
“Saya adalah warga negara Amerika Serikat. Apa yang dilakukan oleh para wakil rakyat saya mencerminkan diri saya,” tulisnya.
Singgung tuduhan pelanggaran seksual
Dalam tulisan tersebut, Allen secara tersirat menyinggung tuduhan pelanggaran seksual yang diduga ditujukan kepada Trump, meski ia tidak menuliskan nama sang presiden secara eksplisit.
"Saya tidak lagi bersedia membiarkan seorang pengkhianat menutupi tangan saya dengan kejahatannya," tulisnya.
Catatan itu juga mengindikasikan bahwa para pejabat administrasi merupakan target utama serangannya.
Allen menyebutkan daftar target berdasarkan peringkat jabatan, tetapi memberikan pengecualian khusus bagi Direktur FBI, Kash Patel.
“Para pejabat administrasi (tidak termasuk Patel): mereka adalah target, diprioritaskan dari peringkat tertinggi hingga terendah,” demikian isi tulisan tersebut, yang tampaknya merujuk pada sang direktur FBI.
Hingga kini, pihak berwenang belum mengetahui alasan spesifik mengapa Patel dikecualikan dari daftar target.
"Secret Service hanya akan menjadi target jika diperlukan. Keamanan hotel, Kepolisian Capitol, dan Garda Nasional sebisa mungkin tidak menjadi target. Karyawan serta tamu hotel sama sekali bukan target," bunyi tulisannya.
Dalam dokumen sepanjang kurang lebih 1.000 kata tersebut, Allen juga menuliskan daftar permintaan maaf yang panjang kepada teman, murid, hingga keluarganya.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan mereka selama hidupnya.
Belum diketahui dari mana pihak berwenang memperoleh tulisan tersebut.
Isi pesannya turut menyoroti isu-isu kemanusiaan dan konflik global, seperti laporan penyiksaan di kamp penahanan imigran, serangan kapal di Laut Karibia dan Pasifik, hingga tragedi pengeboman sekolah dasar di Iran.
“Bersikap pasif ketika orang lain ditindas bukanlah perilaku Kristen. Itu adalah keterlibatan dalam kejahatan penindas,” tulisnya.
Dalam sebuah wawancara di Fox News pada Minggu pagi, Trump tampaknya merujuk pada tulisan tersebut ketika ia menyebutkan bahwa tersangka memiliki "manifesto".
“Dia pria yang sangat bermasalah,” kata Trump.
