GELORA.CO — Sebuah video yang beredar viral di media sosial menyebut seorang pastor Katolik menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump “dikirim oleh Tuhan untuk membunuh Muslim demi Yahudi”. Pernyataan kontroversial ini langsung menuai kecaman keras dan disebut sebagai bentuk “terorisme agama” oleh banyak pengguna internet.
Video pendek tersebut dibagikan secara masif sejak awal April 2026, terutama di platform X (Twitter) dan Facebook. Dalam klip yang beredar, seorang pria berjubah pastor terdengar mengatakan bahwa Trump memiliki misi ilahi untuk melawan umat Muslim demi kepentingan umat Yahudi. Banyak akun yang membagikannya menambahkan caption: “Ini yang disebut terorisme agama.”
🚨🇺🇸 Catholic pastor says Donald Trump was “sent by God to kill Muslims for jews”
— Jvnior (@Jvnior) April 6, 2026
This is what religious terrorism looks like. pic.twitter.com/zjY8xcMKOx
Hingga saat ini, identitas pastor tersebut belum dapat dikonfirmasi secara resmi. Beberapa pengguna media sosial menyebutnya sebagai “Catholic pastor”, meski istilah “pastor” lebih umum digunakan di kalangan Protestan, sementara di Gereja Katolik biasanya disebut “pastor” atau “imam paroki” (priest). Tidak ada pernyataan resmi dari Vatikan atau konferensi uskup Katolik yang merespons klaim ini.
Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan geopolitik global, termasuk isu konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Palestina, Iran, dan berbagai kelompok Muslim. Banyak netizen dari kalangan Muslim menilai pernyataan itu sebagai bukti kebencian agama yang berbahaya dan dapat memicu konflik lebih lanjut.
“Pernyataan seperti ini sangat berbahaya karena bisa menyulut kebencian antaragama dan membenarkan kekerasan atas nama Tuhan,” tulis salah satu pengguna X yang membagikan video tersebut.
Di sisi lain, beberapa akun menyoroti bahwa istilah “Catholic pastor” mungkin tidak tepat secara teknis, karena dalam tradisi Katolik, pemimpin rohani biasanya disebut priest atau father, bukan pastor seperti di denominasi Protestan.
Kontroversi ini muncul tidak lama setelah perayaan Paskah dan di tengah pembicaraan tentang dukungan Trump terhadap Israel serta kebijakan luar negeri AS yang sering dikaitkan dengan isu Timur Tengah. Sebelumnya, beberapa pemimpin agama Kristen evangelikal di AS memang kerap menyebut Trump sebagai “pemimpin yang diutus Tuhan”, meski tanpa nada se-ekstrem klaim dalam video tersebut.
Gereja Katolik secara resmi selalu menekankan dialog antaragama dan menolak kekerasan atas nama agama. Paus Fransiskus berulang kali menyerukan perdamaian antara umat Kristen, Muslim, dan Yahudi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi atau klarifikasi dari pihak Gedung Putih maupun otoritas gereja terkait video tersebut. Polisi atau lembaga anti-kekerasan agama di AS juga belum memberikan tanggapan resmi.
Kasus ini menjadi pengingat betapa cepatnya narasi provokatif menyebar di era media sosial, sering kali tanpa verifikasi yang memadai. Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa fakta sebelum membagikan konten yang berpotensi memicu konflik SARA.
