Motor Listrik untuk Operasional MBG: Rp56,8 Juta per Unit Total Anggaran Rp3,97 T, Transparansi atau Pemborosan?

Motor Listrik untuk Operasional MBG: Rp56,8 Juta per Unit Total Anggaran Rp3,97 T, Transparansi atau Pemborosan?

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Motor Listrik untuk Operasional MBG: Rp56,8 Juta/Unit Total Anggaran Rp3,97 Triliun, Transparansi atau Pemborosan?

GELORA.CO -
Viral di media sosial video gudang penuh motor listrik masih terbungkus plastik lengkap dengan stiker Badan Gizi Nasional (BGN). Motor-motor tersebut disebut sebagai armada operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Informasi yang beredar menyebutkan ada 70.000 unit motor yang akan didistribusikan, terutama di Jawa Barat dan daerah lain. Harga per unit mencapai Rp56,8 juta, sehingga total nilai pengadaan mencapai Rp3,976 triliun atau hampir Rp4 triliun.

Motor yang dimaksud diduga kuat adalah Emmo JVX GT, tipe adventure/trail listrik dengan spesifikasi:

- Tenaga puncak hingga 7.000 watt (sekitar 9,4 hp)
- Kecepatan maksimal 80 km/jam
- Jarak tempuh sekitar 70 km
- Fitur fast charging (30–80% dalam 1 jam)
- Ground clearance tinggi dan suspensi long travel untuk medan berat

Harga Rp56,8 juta per unit ini tergolong sangat mahal untuk motor listrik operasional. Bahkan setara dengan harga mobil bekas seperti Toyota Avanza generasi lama.

Kritik Keras soal Efisiensi Anggaran


Di tengah gaung efisiensi anggaran negara yang terus digaungkan pemerintah, pengeluaran hampir Rp4 triliun hanya untuk armada motor listrik ini menuai banyak pertanyaan.

Dengan uang Rp56,8 juta, masyarakat biasa bisa membeli 2 hingga 3 unit motor matic konvensional (contoh: Honda Beat sekitar Rp19–20 juta per unit) atau bahkan motor listrik lokal lain yang jauh lebih murah, seperti:
- Gesits atau United E-Motor di kisaran Rp23–30 juta
- Beberapa model adventure listrik lain di bawah Rp40 juta

Mengapa harus memilih model premium seharga Rp56,8 juta? Apakah benar-benar diperlukan untuk mengantar makanan bergizi, atau ada faktor lain di balik pemilihan ini?

Sebelumnya, Badan Gizi Nasional sudah mengalokasikan sekitar Rp1,2 triliun untuk pengadaan motor listrik pada tahun anggaran sebelumnya. Jika skema 70.000 unit ini benar, maka total belanja kendaraan operasional MBG bisa membengkak jauh lebih besar. Pertanyaan besar: berapa sebenarnya anggaran yang dialokasikan dan apakah sudah melalui proses tender yang kompetitif dan transparan?

Pertanyaan Transparansi yang Menggantung


Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi yang memadai dari Badan Gizi Nasional maupun pemerintah pusat mengenai:
- Skema pengadaan (beli putus, leasing, atau sewa jangka panjang?)
- Apakah dilakukan tender terbuka atau penunjukan langsung?
- Berapa Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sehingga berhak subsidi pemerintah?
- Mengapa memilih model mahal padahal tugas utamanya adalah distribusi logistik makanan, bukan off-road ekstrem setiap hari?

Banyak netizen dan pengamat mempertanyakan prioritas anggaran. Bukankah Rp4 triliun jauh lebih bermanfaat jika langsung dialokasikan untuk pengadaan bahan pangan berkualitas, perbaikan dapur SPPG, atau program gizi langsung ke anak stunting dan ibu hamil?

Alih-alih mendukung transisi energi hijau, proyek ini justru terlihat seperti pemborosan berjamaah di tengah kritik bahwa program MBG sudah sering disorot soal efisiensi dan potensi markup.

Pro dan Kontra (Dengan Catatan Kritis)


Pendukung mengklaim motor trail listrik cocok untuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) karena kemampuan medan beratnya. Namun, kritikus balik bertanya: apakah semua petugas MBG benar-benar membutuhkan motor adventure mahal setiap hari? Atau ini hanya cara membenarkan pengeluaran besar?

Presiden Prabowo Subianto berulang kali membela MBG sebagai hasil efisiensi anggaran. Tapi kasus viral motor listrik ini justru memperkuat narasi bahwa ada bagian dari program ini yang kurang transparan dan berpotensi tidak efisien.

Publik berhak menuntut kejelasan penuh. Uang negara triliunan rupiah bukan milik segelintir pihak, melainkan pajak rakyat yang harus digunakan sebijak mungkin untuk mengatasi masalah gizi, bukan untuk armada kendaraan yang terlalu mewah.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita