GELORA.CO - Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menegaskan negara-negara Asia yang berada di sepanjang Selat Malaka memiliki kepentingan strategis untuk menjaga jalur perairan tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional.
Pernyataan itu disampaikan Balakrishnan pada Rabu (22/4/2026) di tengah meningkatnya perhatian global terhadap jalur perdagangan energi yang melintasi kawasan Asia Tenggara.
“Hak untuk melintas dijamin untuk semua negara. Kami tidak akan ikut serta dalam upaya apa pun untuk menutup, mencegat, atau mengenakan bea masuk di wilayah sekitar kami,” kata Balakrishnan.
Singapura berbatasan langsung dengan Selat Malaka bersama Malaysia dan Indonesia. Jalur pelayaran ini merupakan salah satu rute perdagangan global paling penting, dengan titik tersempit sekitar dua mil laut atau sekitar 2,8 kilometer di kawasan Selat Phillips dekat Singapura.
Selat Malaka menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Perannya kerap disandingkan dengan Terusan Suez dan Selat Hormuz karena menjadi jalur utama distribusi energi dan perdagangan internasional.
Sekitar 40 persen perdagangan global disebut melintasi Selat Malaka, termasuk sebagian besar pengiriman minyak dari Timur Tengah menuju China, Jepang, dan Korea Selatan.
Wacana Tarif dari Indonesia Jadi Sorotan
Sebelumnya, Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa sempat mengusulkan kemungkinan pengenaan tarif bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Malaka.
Wacana tersebut menjadi perhatian karena Selat Malaka selama ini dipandang sebagai jalur pelayaran internasional yang harus dijaga tetap terbuka dan bebas hambatan.
Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran baru di Asia Tenggara, terutama terkait potensi gangguan arus perdagangan di Selat Malaka.
Selat Malaka berada di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dengan titik tersempit sekitar 2,7 kilometer atau 10 kali lebih sempit dibanding Selat Hormuz. Kondisi geografis tersebut membuat Selat Malaka rawan menjadi titik kritis dalam skenario konflik atau pembatasan jalur pelayaran global.
Selat Malaka juga telah lama diidentifikasi sebagai titik lemah strategis China. Istilah “Dilema Malaka” dipopulerkan pada awal 2000-an ketika Hu Jintao menjabat Presiden China.
Situasi ini semakin rumit akibat klaim teritorial yang saling bersaing, meningkatnya kemampuan China memproyeksikan kekuatan militer, serta ketidakpastian sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Usai menyatakan akan memblokade Selat Hormuz, Trump menyebut telah menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk mencegat kapal-kapal di perairan internasional yang diketahui telah membayar tarif kepada Iran.
Perairan sekitar Selat Malaka juga menjadi sorotan karena disebut sebagai titik penting bagi aktivitas transfer minyak antar kapal oleh ‘kapal gelap’ Iran yang memasok negara-negara Asia, terutama China.
Selat Malaka Tak Tergantikan untuk Perdagangan Global
Pakar kawasan dari University of Illinois Urbana-Champaign, Azifah Astrina, menilai Selat Malaka memiliki posisi strategis yang tidak tergantikan dalam jaringan perdagangan internasional.
“Selat Malaka sangat krusial karena merupakan jalur pelayaran terpendek dan paling efisien yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik, sehingga menjadikannya rute yang tak tergantikan bagi perdagangan antara Timur Tengah, Eropa, dan Asia Timur,” ujar Azifah Astrina.
Ia menambahkan, Selat Malaka juga terhubung langsung dengan Laut China Selatan yang menjadi jalur sepertiga perdagangan global.
“Selat ini terhubung langsung dengan Laut China Selatan, yang dilalui sekitar sepertiga dari total perdagangan global,” katanya.
Menurut laporan terbaru Badan Informasi Energi Amerika Serikat (US Energy Information Administration/EIA), sebanyak 23,2 juta barel minyak per hari melintasi Selat Malaka pada paruh pertama 2025.
Angka itu setara dengan sekitar 29 persen dari total perdagangan minyak global melalui laut.
Pada periode yang sama, jalur perairan ini juga menangani sekitar 260 juta meter kubik gas alam cair (LNG) per hari.
Selain energi, Selat Malaka juga menjadi jalur utama pengiriman barang manufaktur dan industri.
Dosen transportasi dan logistik di University of Leeds, Inggris, Gokcay Balci mengatakan Selat Malaka merupakan rute penting bagi pengiriman barang elektronik, mesin, kendaraan, hingga komoditas pangan.
“Sekitar 25% perdagangan mobil dunia melintas melalui selat ini. Kargo curah kering, seperti gandum dan kedelai, juga melewati Selat Malaka,” ujarnya.
Dengan posisi geografis yang berada di jalur perdagangan utama dunia, Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki kepentingan besar menjaga stabilitas Selat Malaka.
Pernyataan Singapura menegaskan komitmen negara tersebut untuk mempertahankan prinsip kebebasan navigasi dan menolak upaya penutupan, pencegatan, maupun pengenaan bea masuk di jalur perairan strategis tersebut.***
