GELORA.CO — Langit di atas Beirut kembali memerah pada Rabu (8/4/2026) malam, ketika rentetan serangan udara yang dilancarkan Israel menghantam sejumlah kawasan padat di ibu kota Lebanon.
Dentuman keras disertai kobaran api dan kepulan asap tebal menandai kehancuran yang meluas, hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Serangan yang datang tanpa peringatan itu menghancurkan bangunan-bangunan hunian dan fasilitas sipil, meninggalkan puing-puing beton yang berserakan di jalanan.
Tim penyelamat yang bekerja sepanjang malam berupaya mengevakuasi korban dari reruntuhan, sementara sirene ambulans terdengar silih berganti di berbagai sudut kota.
Hingga laporan awal dihimpun, sedikitnya 112 orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka dengan berbagai tingkat keparahan.
Warga yang selamat menggambarkan situasi mencekam saat serangan berlangsung. Banyak di antara mereka tidak sempat menyelamatkan diri ketika ledakan terjadi secara tiba-tiba.
Sejumlah keluarga dilaporkan terjebak di dalam bangunan yang runtuh, menambah daftar korban yang masih terus dicari.
Pemerintah Israel menyatakan bahwa operasi militer tersebut tidak melanggar kesepakatan gencatan senjata yang baru saja diumumkan.
Menurut pernyataan resmi, perjanjian itu tidak mencakup konflik antara Israel dan Hizbullah, kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon dan didukung oleh Iran.
Israel menegaskan bahwa serangan dilakukan sebagai bagian dari upaya mempertahankan keamanan nasionalnya dari ancaman yang dianggap terus berlangsung.
Namun, pernyataan tersebut memicu perdebatan di kalangan internasional.
Sejumlah pihak, termasuk mediator dari Pakistan, sebelumnya mengindikasikan bahwa kesepakatan gencatan senjata seharusnya mencakup penghentian seluruh aksi militer di kawasan yang lebih luas.
Perbedaan interpretasi ini memperlihatkan rapuhnya upaya diplomatik yang tengah berlangsung di tengah konflik yang kompleks.
Serangan terbaru ini kembali menyoroti rentannya situasi keamanan di Lebanon, khususnya di Beirut yang selama ini menjadi pusat aktivitas politik dan ekonomi negara tersebut.
Infrastruktur yang rusak parah dan meningkatnya jumlah korban sipil dikhawatirkan akan memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung di negara itu.
Di tengah ketegangan yang belum mereda, komunitas internasional dihadapkan pada tantangan besar untuk memastikan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka dan mampu meredam eskalasi konflik yang berpotensi meluas di kawasan Timur Tengah.
Sumber: Wartakota
