Trump Ingin Akhiri Perang, Utusan Khususnya Bingung dan tak Tahu

Trump Ingin Akhiri Perang, Utusan Khususnya Bingung dan tak Tahu

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Trump Ingin Akhiri Perang, Utusan Khususnya Bingung dan tak Tahu

GELORA.CO -
Utusan khusus Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Steve Witkoff, bingung menjelaskan tentang bagaimana operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran akan berakhir. Di sisi lain, saat ini ketegangan di Timur Tengah terus meningkat.

“Saya tidak tahu. Yang saya tahu, Presiden Donald Trump bukan sosok yang tepat untuk ditantang,” kata Witkoff dalam wawancara pada Selasa (10/3/2026) dengan CNBC ketika ditanya mengenai kemungkinan akhir dari operasi militer tersebut.

Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas serta menimbulkan korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Washington dan Tel Aviv pada awalnya menyatakan bahwa serangan yang mereka sebut sebagai langkah “pencegahan” itu diperlukan untuk menghadapi ancaman yang dinilai berasal dari program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, kedua negara juga menyampaikan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan syahid pada hari pertama operasi militer tersebut. Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Perkembangan konflik ini memicu reaksi dari sejumlah negara, termasuk Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Menurut Kremlin, tindakan tersebut berpotensi memperburuk stabilitas kawasan yang sudah diliputi ketegangan.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Moskow mendesak semua pihak untuk segera melakukan deeskalasi serta menghentikan aksi permusuhan.

Perang berlanjut


Serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran berlanjut pada Senin (10/3/2026) kemarin. Agresi ini dibalas oleh Teheran dengan membom jantung Israel, sehari setelah pengumuman penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara itu menggantikan ayahnya.

Menurut laporan informasi yang disusun oleh Salam Khader untuk Aljazeera, dikutip Selasa (10/3/2026), serangan Israel dan Amerika Serikat itu menargetkan pusat komando di Isfahan dan Shiraz serta di sabuk barat negara itu, tepatnya di Kermanshah dan Tabriz.

Di ibu kota Teheran, Israel melancarkan serangan di dekat Bandara Mehrabad yang menurutnya menampung beberapa pesawat tempur dan digunakan untuk meluncurkan serangan. Pusat koordinasi operasi antara tentara dan Garda Revolusi di selatan juga menjadi sasaran.

Israel juga mengumumkan telah menyerang markas Korps Quds di timur Teheran dan kompleks angkatan udara di Isfahan. Sebaliknya, Garda Revolusi mengumumkan penghancuran pangkalan pengendali satelit yang diandalkan Tel Aviv untuk mengarahkan rudalnya dan memantau serangan Iran yang ditujukan kepadanya.

Dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perang hampir berakhir, dapat dikatakan bahwa eskalasi ini merupakan persiapan untuk meja perundingan. Pernyataan ini disampaikan pakar militer Brigjen Elias Hanna, yang berpendapat bahwa pencapaian yang dibicarakan Washington dan Tel Aviv tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Dalam analisis Aljazeera, Hanna mengatakan tujuan yang ditetapkan Trump untuk perang ini juga tidak tercapai, karena telah dipilih pemimpin tertinggi yang baru, dan program nuklir serta rudal Teheran tidak dibubarkan.

Dia menambahkan, "Pemimpin baru itu pasti akan duduk di meja perundingan pada saat tertentu, tapi dia akan semakin meningkatkan eskalasi untuk menunjukkan legitimasinya sebelum sampai ke momen politik itu."

Mojtaba Khamenei tidak memiliki latar belakang revolusioner, bahkan latar belakang agama yang dimiliki ayahnya, sehingga pakar militer tersebut berpendapat bahwa dia perlu mendapatkan legitimasi penuh dari lembaga-lembaga militer yang mengelola negara dan yang pada akhirnya tunduk pada kekuasaannya.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita