GELORA.CO - Tokoh-tokoh Kurdi merespons kegentingan di Timur Tengah (Timteng) yang mengancam suku tersebut terseret paksa ke dalam peperangan antara Zionis Israel-Amerika Serikat (AS) dengan Republik Islam Iran.
Ibu Negara Republik Irak, Shanaz Ibrahim Ahmed mengatakan Suku Kurdi, kini sudah hidup dalam ketenangan dan perdamaian. Dia menegaskan Suku Kurdi bukan tentara bayaran yang bisa kembali diseret ke dalam perang pihak lain.
“Biarkan Kurdi sendiri. Kami bukan tentara bayaran,” kata Shanaz dalam pernyataan tertulis yang dipublikasikan melalui laman resmi media sosial (medsos) miliknya, Kamis (5/3/2026).
Shanaz Ibrahim Ahmed adalah ibu negara Irak, isteri dari Presiden Republik Irak Abdul Latif Jamal Rashid. Kedua pasangan tersebut adalah tokoh politik penting dari Suku Kurdi di Irak. Keduanya adalah politikus dari Partai Patriotik Kurdi (PUK) yang merupakan salah satu faksi politik terbesar di Irak.
Shanaz juga merupakan tokoh perempuan penting dari garis keturunan keluarganya di Sulaimania yang merupakan kota utama semi otonom untuk rakyat Kurdi di Irak.
Shanaz mengecam masa lalu peran Amerika Serikat (AS) yang memperlakukan Suku Kurdi hanya sebagai pion untuk kepentingan peperangan semata. Ibu Negara kelahiran 1954 itu dalam pernyataan tertulisnya mengingat padal 1991, Kurdi didesak untuk melawan kekuasaan Saddam Hussein di Irak. “Tetapi lalu kami ditinggalkan ketika prioritas berubah,” ujar dia.
Ia mengatakan, tak ada yang membela Suku Kurdi ketika upaya melawan Saddam Hussein 35 tahun lalu itu berakhir dengan pembantaian. “Tidak ada yang membela kami ketika rezim (Saddam Hussein) mengerahkan helikopter tempur dan tank untuk menumpas kami,” ujar dia.
Kenangan itu, kata Shanaz membekas, dan tetap hidup. “Terukir dalam pikiran kami,” kata Shanaz.
Suku Kurdi memperingati babak mencekam itu dengan sebutan ‘Raparin. “Dan kami tidak melupakan apa yang telah diajarkannya kepada kami,” ujar dia.
Pun baru-baru ini, kata Shanaz, orang-orang Kurdi si wilayah Timur Laut Suriah atau di Rojava juga mengalami tragedi yang sama. Kurdi mendapat janji-janji manis yang diberikan oleh negara-negara tertentu. Kurdi diminta angkat senjata melawan rezim Bashar Assad, dan berperang dengan kelompok-kelompok terorisme ISIS dan ISIL.
Tapi setelah tujuan tercapai, tak membuat rakyat Kurdi di Suriah diperlakukan sesuai dengan janji-janji awalan. “Setelah semua janji yang dibuat, setelah Kurdi Suriah berdiri di garis paling depan perang melawan, kita menyaksikan sendiri bagaimana mereka (Kurdi Suriah) diperlakukan,” kata Shanaz.
Saat ini, kata Shanaz, Kurdi Irak sudah merasakan perdamaian yang diinginkan. Mereka telah memasuki masa stabilitas yang dapat menghidupi serta memberikan martabat dalam kehidupan seluruh Suku Kurdi. “Oleh karena itu, kami sangat sulit menerima, bahkan mustahil bagi kami orang-orang Kurdi untuk menerima diperlakukan kembali seperti pion-pion oleh negara-negara adidaya dunia (AS),” kata dia.
Pengalaman pahit dari masa lalu, dan tabiat politik yang tak pernah lurus dalam memanfaatkan Suku Kurdi, membuat Shanaz meminta kepada semua pihak yang terlibat dalam peperangan antara AS-Israel dengan Iran tak menyeret Kurdi ke palagan perang.
“Pengalaman itu masih ada. Janji-janji kosong itu masih ada. Terlalu sering Kurdi hanya diingat ketika kekuatan atau pengorbanan mereka dibutuhkan. Karena alasan itu, saya memohon kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik dan peperangan ini. Biarkan Kurdi hidup dalam ketenangan. Kami orang-orang Kurdi bukan tentara bayaran,” ujar Shanaz.
Penyampaian terbuka Shanaz itu, menyusul spekulasi internasional menyangkut peperangan yang saat ini membesar di kawasan Timur Tengah akibat agresi Zionis Israel-AS ke wilayah Iran.
Belakangan peperangan tersebut berlanjut dengan rencana Presiden AS Donald Trump untuk memberikan pendanaan dan mempersenjatai Suku Kurdi yang berbasis di perbatasan antara Irak dan Iran.
Dalam perangnya dengan Iran kali ini, Trump sulit mendapatkan persetujuan dari Kongres AS untuk pengerahan tentara resminya. Itu dilakukan demi menghindari korban jiwa yang signifikan di pihak AS.
Karena itu, Trump melalui kontak Badan Intelijen Luar Negeri AS (CIA) memberikan proposal kepada dua faksi Kurdi terbesar di Irak dan Iran dari kelompok Masoud Barzani dan Bafel Talabani untuk mengerahkan tentara Kurdi masuk ke wilayah Iran.
Tujuannya agar Suku Kurdi berada di pihak AS dan Israel untuk melakukan perang darat menyerbu tentara Iran yang hingga kini masih melakukan perlawanan sampai ke negara-negara di Teluk Arab.
Misi yang disampaikan Trump kepada kelompok bersenjata Kurdi, yaitu penggulingan pemerintahan teokrasi yang hingga kini masih berkuasa di Teheran. Trump dikabarkan sudah melakukan komunikasi dan kontak langsung dengan dua kelompok Kurdi bersenjata tersebut. Militer Iran, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengetahui rencana tersebut, dan mulai melakukan pengeboman di wilayah-wilayah Kurdi di perbatasan negara itu.
