GELORA.CO - Kekuasaan Kekaisaran Romawi selama berabad-abad dianggap sebagai manifestasi kehendak ilahi yang tidak tergoyahkan. Di bawah perlindungan legiun-legiun perkasa, posisi seorang kaisar bukan sekadar pemimpin politik, melainkan sosok yang hampir dianggap dewa dan tak tersentuh.
Namun, fondasi harga diri Roma runtuh seketika pada tahun 260 Masehi di dekat kota kuno Edessa, yang kini dikenal sebagai Şanlıurfa di tenggara Turki. Valerian, pria paling berkuasa di bumi pada masanya, justru berakhir sebagai tawanan perang setelah pasukannya dihancurkan oleh Raja Sassanid, Shapur I.
Peristiwa ini menjadi titik terendah dalam sejarah Romawi, menandai babak paling kelam dari Krisis Abad Ketiga yang nyaris membubarkan kekaisaran tersebut.
Sebaran berita mengenai penangkapan Valerian memicu gelombang kejutan dari Tembok Hadrian di Britania hingga tepian sungai Efrat, mengungkap kerapuhan yang selama ini tertutup rapat oleh kemegahan ritual istana.
Bagaimana mungkin seorang Augustus yang memegang gelar Pontifex Maximus bisa jatuh ke tangan musuh dan menjadi alat propaganda bagi dinasti Persia yang sedang naik daun?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Valerian setelah ia menghilang dari catatan resmi Romawi, dan bagaimana peristiwa kuno ini tetap bergema dalam politik modern hingga hari ini?
Tragedi di Edessa dan Mitos Pijakan Kaki
Valerian naik takhta pada tahun 253 Masehi bukan di masa kejayaan, melainkan saat Romawi sedang dikepung berbagai kemalangan.
Menurut artikel dari Greek Reporter, ekonomi negara saat itu sedang terjun bebas akibat inflasi, sementara militer terpecah oleh perang saudara. Selain itu, Wabah Cyprian (Plague of Cyprian) sedang merajalela, membunuh ribuan orang dan menguras moral pasukan.
Menyadari luasnya wilayah yang harus dijaga, Valerian mengambil langkah berisiko dengan membagi kekuasaan; ia menyerahkan wilayah Barat kepada putranya, Gallienus, sementara ia sendiri memimpin pasukan ke Timur untuk menghadapi ancaman Sassanid yang ambisius.
Pertemuan di Edessa pada 260 Masehi berakhir dengan bencana total. Meski secara angka pasukan Romawi terlihat besar, Ancient Origins mencatat bahwa Valerian membawa sekitar 70.000 prajurit yang sebenarnya sudah kelelahan dan didera penyakit.
Detail penangkapannya pun masih diperdebatkan oleh para sejarawan. Zosimus, sejarawan Bizantium, memberikan catatan yang memalukan bagi Roma: Valerian diduga ditangkap saat mencoba melakukan negosiasi perdamaian, dikhianati di saat ia merasa pertempuran akan berakhir.
Shapur I sendiri dalam prasasti resminya mengklaim, "Kami dengan tangan kami sendiri menawan Valerian Caesar."
Nasib Valerian setelah penangkapan tersebut melahirkan banyak legenda yang mengerikan, terutama dari sudut pandang penulis Kristen. Lactantius, seorang penulis Kristen kuno dan penasihat Constantine I, menggambarkan akhir hidup Valerian dengan penuh kebencian karena kebijakan sang kaisar yang pernah menganiaya umat Kristen.
Dalam catatannya, Lactantius mengeklaim bahwa Shapur I menggunakan punggung Valerian sebagai pijakan kaki (human footstool) setiap kali sang raja hendak menunggangi kudanya. Lebih jauh lagi, narasi ini menyebutkan bahwa setelah meninggal, kulit Valerian dikuliti, diwarnai merah, dan diawetkan di kuil sebagai piala kemenangan.
Namun, sejarawan modern cenderung skeptis terhadap cerita dramatis ini, mengingat para penulis Kristen saat itu memiliki kepentingan untuk menunjukkan bahwa musuh-musuh Tuhan akan menerima hukuman yang setimpal.
Diplomasi Batu dan Simbol Perlawanan Modern
Kontras dengan narasi tragis di Barat, bukti-bukti arkeologis di wilayah Persia menunjukkan sisi lain dari penangkapan sang kaisar. Di Naqsh-e Rostam, terdapat relief batu raksasa yang memperlihatkan Shapur I di atas kuda dengan sosok Kaisar Romawi yang berlutut di hadapannya.
Menariknya, analisis dalam artikel Ancient Origins menyebutkan bahwa dalam banyak ukiran, Valerian sering kali digambarkan masih mengenakan pakaian kebesarannya dan tidak dirantai. Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa Shapur lebih memilih memanfaatkan keahlian para tawanan Romawi daripada sekadar menyiksa mereka secara brutal.
Bukti nyata dari pragmatisme Shapur dapat ditemukan di Shushtar, Iran, dalam bentuk Band-e Kaisar atau "Bendungan Kaisar". Struktur ini merupakan pencapaian teknik sipil bergaya Romawi yang dibangun oleh Valerian dan ribuan tentaranya yang ditawan.
Artikel Greek Reporter mencatat bahwa keberadaan bendungan ini menunjukkan Shapur menghargai keahlian teknis tawanan Romawi untuk memperkuat infrastruktur kerajaannya.
Sementara itu di Roma, putra Valerian, Gallienus, terpaksa membuat keputusan pahit untuk tidak meluncurkan misi penyelamatan karena kondisi kekaisaran yang hancur, yang kemudian memicu munculnya negara-negara pecahan seperti Kekaisaran Gallia dan Palmyrene.
Meski terjadi lebih dari 1.700 tahun yang lalu, narasi kemenangan Shapur atas Valerian secara mengejutkan muncul kembali dalam konteks geopolitik modern.
Awal tahun ini, pemerintah Iran baru-baru ini meresmikan sebuah patung berjudul "Kneel Before Iran" di Alun-alun Enghelab, Teheran. Patung tersebut menggambarkan Shapur I di atas kuda dengan figur Valerian yang berlutut di depannya.
Menurut laporan dari 9News.com, simbol ini digunakan oleh otoritas Iran sebagai representasi ketangguhan nasional menghadapi tekanan Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel.
"Patung Valerian mencerminkan kebenaran sejarah bahwa Iran telah menjadi tanah perlawanan sepanjang sejarah," ujar Mehdi Mazhabi, kepala Tehran's Municipal Beautification Organisation.
Associate Professor Peter Edwell, dalam tulisannya di The Conversation, berpendapat bahwa penggunaan figur Valerian dalam monumen publik tersebut bertujuan untuk membangkitkan persatuan internal Iran setelah adanya ancaman serangan militer terhadap fasilitas nuklir mereka.
Melalui sejarah Valerian, narasi yang dibangun adalah bahwa siapapun yang mencoba melanggar kedaulatan Iran pada akhirnya akan "berlutut".
Dengan demikian, sosok Valerian yang malang tidak hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah kehancuran Romawi, tetapi juga bertransformasi menjadi simbol politik yang terus hidup dalam ketegangan dunia modern.
Sumber: national geographic

