Kewalahan Hadapi Serangan Iran, AS Kini Menyesal Abaikan Teknologi Anti-Drone Ukraina

Kewalahan Hadapi Serangan Iran, AS Kini Menyesal Abaikan Teknologi Anti-Drone Ukraina

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO  — Pemerintah Amerika Serikat mulai mengakui adanya kesalahan taktis dalam persiapan menghadapi konflik dengan Iran, setelah sebelumnya mengabaikan tawaran teknologi pertahanan anti-drone dari Ukraina.

Pengakuan tersebut muncul di tengah meningkatnya ancaman drone tempur Iran yang kini menjadi salah satu senjata utama dalam konflik modern di kawasan Timur Tengah.

Laporan media Axios menyebutkan bahwa tawaran tersebut pernah disampaikan langsung oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, dalam pertemuan dengan pejabat tinggi Amerika Serikat di Gedung Putih pada 18 Agustus tahun lalu.

Dalam pertemuan itu, Zelensky menawarkan pengalaman dan teknologi yang dikembangkan Ukraina selama menghadapi serangan drone Rusia dalam perang yang telah berlangsung sejak 2022.


Namun, menurut laporan yang dipublikasikan Selasa (10/3/2026), tawaran tersebut tidak pernah ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah Amerika Serikat.

Seorang pejabat AS yang mengetahui proses tersebut bahkan mengakui bahwa keputusan itu kini dianggap sebagai kesalahan strategis menjelang konflik dengan Iran.

“Jika ada kesalahan taktis atau kekeliruan yang kami buat menjelang perang dengan Iran, inilah kesalahan itu,” kata pejabat tersebut sebagaimana dikutip Axios.

Pengakuan tersebut muncul ketika drone buatan Iran, khususnya seri Shahed, semakin sering digunakan dalam berbagai operasi militer di Timur Tengah.

Drone jenis ini dikenal sebagai loitering munition atau amunisi berkeliaran, yakni pesawat tanpa awak yang dapat terbang cukup lama sebelum menghantam target dengan muatan peledak.

Teknologi tersebut menjadi efektif karena relatif murah diproduksi, mudah diluncurkan, dan dapat digunakan dalam jumlah besar untuk menembus sistem pertahanan udara lawan.



Sejumlah laporan militer menyebutkan bahwa drone Shahed kini menjadi ancaman serius bagi pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dalam beberapa serangan terbaru, drone tersebut dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan dan menghantam target militer, bahkan menyebabkan korban di pihak tentara Amerika.



Situasi ini memperlihatkan tantangan baru bagi sistem pertahanan udara konvensional Amerika Serikat yang selama ini dirancang untuk menghadapi rudal balistik atau pesawat tempur berteknologi tinggi, bukan drone murah yang diluncurkan secara massal.

Para analis militer menyebut fenomena ini sebagai perubahan paradigma perang modern, di mana senjata berbiaya rendah mampu menciptakan dampak strategis yang besar.

Ukraina sendiri telah menghadapi tantangan serupa sejak awal invasi Rusia, terutama ketika Moskow menggunakan drone Shahed buatan Iran dalam berbagai serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas militer di wilayah Ukraina.

Dalam menghadapi ancaman tersebut, militer Ukraina mengembangkan berbagai pendekatan pertahanan yang relatif murah namun efektif.



Selain menggunakan sistem rudal pertahanan udara, Ukraina juga memanfaatkan teknologi pengacau sinyal, sistem radar sederhana, hingga metode pencegatan menggunakan senjata ringan dan sistem otomatis yang dirancang khusus untuk melawan drone kecil.

Pendekatan ini dinilai jauh lebih ekonomis dibandingkan penggunaan rudal pertahanan udara bernilai jutaan dolar untuk menghancurkan drone yang biaya produksinya hanya puluhan ribu dolar.

Sejumlah analis keamanan internasional menilai pengalaman Ukraina tersebut sebenarnya bisa menjadi referensi penting bagi militer Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman drone murah yang semakin berkembang.

Namun, keputusan untuk tidak segera mengadopsi teknologi atau pendekatan serupa dari Ukraina kini dipandang sebagai peluang yang terlewatkan.

Di sisi lain, Iran terus mengembangkan kemampuan drone militernya sebagai bagian dari strategi perang asimetris yang dirancang untuk menghadapi kekuatan militer negara-negara Barat.

Dengan biaya produksi yang relatif rendah, drone seperti Shahed memungkinkan Iran dan sekutunya untuk menekan sistem pertahanan lawan tanpa harus mengandalkan persenjataan mahal.

Strategi ini juga dinilai mampu mengubah dinamika konflik modern, di mana dominasi teknologi tinggi tidak selalu menjamin keunggulan di medan perang.

Seiring meningkatnya ancaman tersebut, sejumlah pejabat pertahanan Amerika kini mulai mendorong evaluasi menyeluruh terhadap strategi pertahanan udara, khususnya dalam menghadapi gelombang serangan drone murah yang semakin umum digunakan dalam konflik global.



Pengakuan adanya kesalahan taktis menjelang konflik dengan Iran itu sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam perang modern, inovasi teknologi sering kali datang dari pengalaman langsung di medan tempur bukan semata dari sistem senjata paling mahal atau paling canggih

Sumber: Wartakota 
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita