Jawab Gertakan Trump, Iran Siap Ladeni Pasukan Darat AS dan Janjikan Bencana Besar

Jawab Gertakan Trump, Iran Siap Ladeni Pasukan Darat AS dan Janjikan Bencana Besar

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya tidak gentar menghadapi ancaman invasi darat oleh militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Menurut dia, militer Iran justru sedang menunggu kedatangan pasukan darat AS-Israel sekaligus menjanjikan bencana bagi "tamunya".

"Tidak, kami tidak takut. Kami justru menunggu mereka. Kami sangat percaya diri dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka," tegas Araghchi dalam wawancara video dengan NBC Nightly News langsung dari Teheran, Kamis (5/3/2026). 


Jika ancaman invasi darat AS-Israel menjadi kenyataan, konflik akan memasuki fase baru yang jauh lebih berdarah. 

Selain risiko jatuhnya korban jiwa yang masif di kedua belah pihak, komunitas internasional mencemaskan stabilitas ekonomi dunia, terutama pada harga energi global yang sangat bergantung pada stabilitas kawasan Teluk.

Trump Buka Opsi mengerahkan pasukan darat

Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan mengulangi janji presiden-presiden sebelumnya yang kerap mengharamkan pengerahan pasukan darat (boots on the ground). Trump menyatakan opsi tersebut tetap terbuka jika situasi di lapangan mengharuskan.

"Saya tidak ragu mengirim pasukan darat. Saya tidak mengatakan 'tidak akan ada pasukan darat'. Saya katakan 'mungkin tidak membutuhkannya' atau 'jika diperlukan'," ujar Trump, Selasa (3/3/2026).

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menambahkan bahwa hingga saat ini belum ada pasukan AS yang masuk ke wilayah Iran, namun kesiapan pengerahan terus dipantau guna melindungi kepentingan keamanan Amerika dan sekutunya.


Eskalasi ini dipicu oleh kegagalan perundingan di Jenewa pekan lalu. Trump mengklaim intelijen AS menemukan bukti bahwa Iran diam-diam melanjutkan pengayaan nuklir di lokasi rahasia.

Sementara, Araghchi menuding AS tidak jujur karena meluncurkan serangan justru saat negosiasi sedang berlangsung dengan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner.

"Kami tidak punya pengalaman positif bernegosiasi dengan AS. Di tengah negosiasi, mereka menyerang kami. Jadi tidak ada alasan untuk terlibat lagi dengan mereka yang tidak punya itikad baik," tambah Araghchi.


Araghchi melaporkan 171 anak-anak tewas dalam serangan di sebuah sekolah dasar di Minab.

Meski pihak militer AS menyatakan tengah melakukan investigasi, Araghchi dengan tegas menyalahkan koalisi AS-Israel atas tragedi tersebut.

Sumber: Tribunnews 
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita