Iran Hancurkan 11 Drone Reaper Canggih AS, Kerugian Tembus 330 Juta USD

Iran Hancurkan 11 Drone Reaper Canggih AS, Kerugian Tembus 330 Juta USD

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Iran Hancurkan 11 Drone Reaper Canggih AS, Kerugian Tembus 330 Juta USD

GELORA.CO
- Militer AS telah kehilangan 11 drone MQ-9 Reaper selama perang AS-Israel melawan Iran. Demikian menurut pejabat AS yang dikutip oleh CBS News. Ini menandai salah satu kerugian peralatan paling signifikan dalam perang tersebut.

Seperti dilaporkan TRT News, dua drone tambahan baru-baru ini ditembak jatuh, sehingga jumlah total yang hancur menjadi 11. Total biaya pesawat yang hilang diperkirakan lebih dari $330 juta.

Drone MQ-9 Reaper adalah kendaraan udara tak berawak yang digunakan untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian, serta operasi serangan presisi.

Namun, pejabat pertahanan mengatakan pesawat tersebut lebih mudah menjadi sasaran di lingkungan dengan sistem pertahanan udara canggih.

Drone tersebut awalnya dirancang untuk operasi kontra-terorisme di daerah dengan pertahanan udara terbatas, bukan di wilayah udara yang dijaga ketat.

Pesawat ini memiliki kecepatan maksimum sekitar 480 kilometer per jam, jauh lebih lambat daripada jet tempur, yang dapat mencapai kecepatan antara sekitar 1.200 dan 1.900 mil per jam.

Kerugian Amerika


Dalam laporan terdahulu, Amerika Serikat telah kehilangan peralatan militer senilai hampir 2 miliar dolar AS. Angka itu baru dihitung empat hari selama perang.  Demikian menurut perkiraan dan data yang dikumpulkan oleh Anadolu Agency.

Penyebab utama kerugian tersebut adalah sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 AS di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, senilai $1,1 miliar, yang terkena serangan rudal Iran. Qatar mengkonfirmasi bahwa radar tersebut terkena dan rusak.

Kemudian tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle tumbang dalam insiden tembakan salah sasaran oleh pertahanan udara Kuwait. Meskipun keenam awak  selamat, pesawat-pesawat tersebut hancur, biaya penggantiannya diperkirakan mencapai $282 juta.

Selama serangan balasan pertamanya pada Sabtu, Iran menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain, menghancurkan dua terminal komunikasi satelit dan beberapa bangunan besar.

Menggunakan laporan intelijen sumber terbuka, terminal SATCOM yang menjadi sasaran diidentifikasi sebagai AN/GSC-52B, yang diperkirakan berharga $20 juta, termasuk biaya penyebaran dan pemasangan.

Iran juga mengklaim telah menghancurkan komponen radar AN/TPY-2 dari Sistem Rudal Anti-Balistik (ABM) THAAD yang ditempatkan di Kota Industri Al-Ruwais di Uni Emirat Arab.

Citra satelit melalui laporan intelijen sumber terbuka menunjukkan bahwa telah terjadi serangan. Komponen radar yang hancur diperkirakan bernilai $500 juta. Jika digabungkan, Iran telah merusak aset militer AS di kawasan tersebut senilai $1,902 miliar.

Anggota militer AS terbunuh


Sementara itu, AS telah mengidentifikasi tujuh anggotanya yang tewas dalm pertempuran melawan Iran. Terakhir, anggota Militer AS yang tewas diketahui bernama Sersan Benjamin N Pennington, 26 tahun. Ia meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita selama serangan Iran di pangkalan udara di Arab Saudi. Sersan N Pennington merupakan penduduk Glendale, Kentucky.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin, Pentagon mengatakan Pennington meninggal pada Ahad akibat luka-luka yang diderita selama serangan Iran di pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi pada tanggal 1 Maret. "Insiden tersebut sedang diselidiki," kata pernyataan itu.

Pennington ditugaskan di batalion ruang angkasa pertama, brigade ruang angkasa pertama, Fort Carson, Colorado. Brigade tersebut merupakan bagian dari komando pertahanan ruang angkasa dan rudal Angkatan Darat.

Dalam pernyataannya, Komando Pusat AS mengatakan bahwa anggota militer tersebut telah terluka parah ketika pangkalan militer Saudi diserang pada  1 Maret.

“Komando Pertahanan Rudal dan Antariksa Angkatan Darat AS sangat berduka atas kehilangan Sersan Pennington,” kata Letnan Jenderal Sean A Gainey, komandan jenderal USASMDC.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita