GELORA.CO – Konflik di Timur Tengah semakin memanas dengan tuduhan bahwa Rusia secara diam-diam memberikan bantuan intelijen kepada Iran untuk meningkatkan akurasi serangan rudal dan drone terhadap situs militer Amerika Serikat (AS) serta Israel. Laporan intelijen AS menyebut Moskow membagikan data lokasi pasukan AS, termasuk posisi kapal perang, pesawat, dan sistem radar, yang memungkinkan Iran menargetkan lebih tepat sasaran.
Menurut sumber intelijen AS yang dikutip The Washington Post dan NBC News pada 6-7 Maret 2026, Rusia menggunakan jaringan satelit canggihnya untuk menyediakan citra real-time dan informasi targeting kepada Teheran. Bantuan ini disebut sebagai bentuk keterlibatan tidak langsung Moskow dalam perang yang dimulai sejak akhir Februari 2026, di mana AS dan Israel melakukan serangan udara masif terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran.
"Informasi dari Rusia membantu Iran menemukan kapal perang Amerika, radar, atau sistem komunikasi lainnya. Ini meningkatkan ketepatan serangan rudal dan drone Iran," kata seorang pejabat AS yang berbicara tanpa menyebut nama karena sensitivitas informasi tersebut.
Beberapa serangan Iran baru-baru ini, termasuk hantaman drone ke fasilitas militer AS di Kuwait yang menewaskan enam tentara Amerika, diduga mendapat manfaat dari data intelijen Rusia. Meski belum ada bukti langsung bahwa Rusia mengarahkan serangan tersebut, keterlibatan ini menandai eskalasi geopolitik yang signifikan, mengingat Rusia dan Iran telah memperkuat kerjasama militer dalam beberapa tahun terakhir.
Iran sendiri mengklaim memiliki kemampuan intelijen mandiri melalui satelit dan drone, namun laporan Barat menilai bantuan Rusia memberikan keunggulan presisi yang krusial di tengah tekanan serangan balasan dari AS-Israel. Kremlin hingga kini membantah tuduhan tersebut, dengan juru bicara Dmitry Peskov menyatakan bahwa Iran belum meminta bantuan militer langsung dari Rusia.
Di sisi lain, kerjasama rudal antara kedua negara terus menjadi sorotan. Baru-baru ini, Iran menandatangani kesepakatan rahasia senilai sekitar €500 juta dengan Rusia untuk pengadaan ribuan rudal anti-pesawat shoulder-fired Verba (9M336), meski pengiriman utama dijadwalkan mulai 2027. Kerjasama ini diyakini bagian dari upaya Iran membangun kembali pertahanan udara yang rusak akibat serangan sebelumnya.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran global akan perluasan konflik. Iran terus meluncurkan serangan balasan, sementara AS dan Israel mengklaim telah menghancurkan sebagian besar peluncur rudal dan pusat komando Teheran. Situasi di Selat Hormuz juga memanas, dengan Iran mengancam menargetkan kapal milik AS dan Israel yang melintas.
Pemerintah Indonesia dan negara-negara ASEAN terus memantau perkembangan, mengingat dampak potensial terhadap stabilitas harga minyak dunia dan jalur perdagangan internasional. Para analis memperingatkan bahwa keterlibatan lebih dalam dari Rusia bisa mengubah dinamika perang proksi menjadi konfrontasi langsung antar kekuatan besar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Rusia atau Iran mengenai tuduhan bantuan intelijen tersebut. Namun, laporan dari berbagai sumber Barat menunjukkan pola kerjasama yang semakin erat di tengah tekanan geopolitik global.
