Harga BBM di Singapura dan Malaysia Meroket, di Indonesia Tak Naik?

Harga BBM di Singapura dan Malaysia Meroket, di Indonesia Tak Naik?

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
- Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, membawa dampak kenaikan harga energi dunia. Bahkan harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negeri jiran meroket imbas Iran berani menyerang balik sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan wilayah Israel.

Dikutip dari Straits Times, pada Rabu 18/3/2026), harga di Cnergy adalah 2,35 dolar Singapuraatau sekitar Rp 31 ribu per liter untuk bensin oktan 95 dan 2,65 dolar Singapura atau sekitar Rp 35 ribu per liter untuk bensin oktan 98. Jika perang terus berlanjut dan Iran menutup Selat Hormuz, dikhawatirkan harga minyak bakal terus melambung.

Bagi pengemudi mobil sewaan pribadi Muhammad Fauzi (44 tahun), kenaikan harga bensin- tertinggi sejak 2022-telah mengurangi penghasilan bersihnya. Dia mengaku, memperoleh pendapatan sekitar 1.400-1.600 dolar Singapura atau sekitar Rp 18,5 juta-Rp 21 juta dalam sepekan terakhir.

Padahal, ia biasanya mendapatkan 1.700-1.900 dolar AS atau sekitar Rp 22,5 juta-Rp 25 juta. Meskipun sudah menghabiskan lebih dari 12 jam di jalan setiap hari, penghasilannya menurun imbas penumpang yang berkurang.

Meskipun platform transportasi daring Grab telah menawarkan voucer bahan bakar senilai 40 dolar Singapura atau sekitar Rp 528 ribu, untuk menutupi biaya yang lebih tinggi, menurut Fauzi, angka itu tidak cukup. "Voucer itu bahkan tidak cukup untuk mengisi satu tangki penuh. (Mereka) lebih baik tidak memberikannya," kata Fauzi.

Kondisi yang sama juga terjadi di Malaysia. Laporan Malay Mail pada Jumat (20/3/2026), mencatat, harga bahan bakar tanpa subsidi telah naik beruntun dalam dua pekan terakhir.

Harga minyak oktan 95 sekarang mencapai 3,27 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 14 ribu per liter dan oktan 97 mencapai 4,55 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 19.500 per liter. Harga itu naik dari sebelumnya di angka 2,59 ringgit Malaysia (Rp 11 ribu) dan 3,15 ringgit Malaysia (Rp 13,5 ribu) per liter per akhir Februari.

Harga solar di Semenanjung Malaysia juga ikut naik dari 3,04 ringgit Malaysia (Rp 13 ribu) menjadi 4,72 ringgit Malaysia (Rp 20 ribu) per liter selama periode yang sama. Sementara harga solar di Sabah, Sarawak, dan Labuan tetap di angka 2,15 ringgit Malaysia (Rp 9.252) per liter.

Sementara di Indonesia, harga BBM tidak mengalami kenaikan. Bahkan, konsumsi BBM masyarakat melonjak imbas mudik Lebaran. Dalam laporan Pertamina Patra Niaga per Maret 2026, harga Pertalite tetap Rp 10 rbibu per liter, Biosolar Rp 6.800 per liter, dan Pertamax Rp 12.300 per liter. Adapun harga Pertamax Turbo Rp 13.100 per liter dan termahal Dexlite Rp 14.200 per liter.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjamin, pemerintah memastikan harga BBM subsidi, meski harga minyak dunia saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel. Dia menyebut, pemerintah memilih menyerap tekanan kenaikan harga energi melalui efisiensi APBN agar tidak membebani masyarakat.

"Tidak (BBM tidak naik). Jadi kita absorb tekanan terhadap perekonomian di APBN. Kalau kita lepaskan, nanti kayak negara-negara lain pada panik orang-orang," ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (19/3/2026).
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita