Erdogan Singgung Watak Netanyahu dan Israel

Erdogan Singgung Watak Netanyahu dan Israel

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Erdogan Singgung Watak Netanyahu dan Israel

GELORA.CO - 
Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan kembali menyerukan kepada seluruh pemimpin di dunia untuk menghindari jebakan Zionis Israel. Erdogan menegaskan, kepemimpinan Zionis Israel berwatak radikal dan merusak prinsip-prinsip diplomasi internasional yang dibangun di atas dasar kesadaran untuk memelihara perdamaian global.

“Sikap Israel yang tidak mau berkompromi, ngotot, dan radikal tidak boleh dibiarkan merusak solusi-solusi diplomatik,” kata Erdogan seperti dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (25/3/2026). Erdogan menyampaikan penegasannya itu dalam pidato dihadapan para pemangku politik di Turki, usai rapat kabinet di Ankara, Rabu (24/3/2026) waktu setempat. 

Erdogan juga menyoroti posisi dan peran Turki dalam menghadapi situasi peperangan di kawasan Timur Tengah (Timteng) saat ini yang mengancam negara-negara kawasan ke gelanggang kehancuran akibat agresi Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Republik Islam Iran. Erdogan memastikan, Turki tetap pada posisi di luar lingkaran api yang sedang terbakar di kawasan. “Kita tidak akan terjebak dalam perangkap yang disiapkan untuk kita. Kita harus bertekad untuk menghindari lingkaran api,” ujar dia.

Erdogan percaya, peperangan di Timteng yang berawal dari agresi Zionis-AS terhadap Iran akibat ulah satu karakter kepala batu dan tak bisa dipercaya yang sedang memimpin Zionis Israel, yakni Benjamin Netanyahu. Erdogan mengingatkan, peperangan yang dikobarkan Netanyahu terhadap Iran, mencelakakan miliar lebih warga negara di dunia. “Perang ini adalah untuk Netanyahu bertahan hidup, tetapi delapan miliar orang yang menanggung akibatnya,” kata Erdogan.

Sebab itu, kata Erdogan, agar pemimpin-pemimpin negara di seluruh dunia, tak gentar dalam posisi yang berseberangan dengan Zionis Israel. Pun kata Erdogan, agar pemimpin-pemimpin negara di seluruh dunia tetap mempertahankan sikap keberanian untuk tetap berada di jalur penjaga perdamaian global yang tak dikehendaki oleh Netanyahu. “Jaringan pembantaian yang dipimpin Netanyahu harus segera dihentikan demi perdamaian dan kemanusian. Bahwa setiap negara harus mengambil sikap yang berani dan proaktif,” kata Erdogan.

Perang Zionis-AS terhadap Iran, berawal dari agresi militer yang dimotori Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump terhadap Teheran, pada Sabtu (28/2/2026). Perang tersebut hingga saat ini sudah memasuki pekan ke-4, atau hari ke-26. Perang melebar ke kawasan negara-negara Teluk Arab, karena militer Iran melakukan perlawanan balasan dengan membombardir pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar di negara-negara Arab, di Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirate Arab, termasuk di Yordania, dan di Irak. 

Iran juga melakukan perlawanan balasan dengan menghujani wilayah pendudukan Zionis Israel di Tanah Palestina. Perang semakin melebar ke Lebanon setelah faksi pejuang Hizbullah turut membela Iran dengan membombardir wilayah-wilayah pendudukan Zionis Israel di Palestina bagian utara. Dari semua front peperangan, diperkirakan 3.000 ribuan yang menjadi korban dalam peperangan tersebut. Di Iran, catatan korban jiwa mencapai 1.340 orang, termasuk Wali Agung Ali Khamenei yang syahid pada hari pertama agresi, Sabtu (28/2/2026).

Namun belakangan, muncul rencana untuk penghentian perang antara AS dan Iran. Proposal penghentian perang tersebut setelah Presiden Trump di Washington menyampaikan penundaan serangan besar-besaran terhadap Iran selama lima hari terhitung sejak Senin (23/3/2026). Proposal penghentian perang itu, juga disambut oleh Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif yang bersedia menjadi mediator untuk perundingan antara AS dan Iran, di Islamabad. Tetapi rencana perundingan itu, belum ada tanggapan resmi dari otoritas di Teheran. 

Sedangkan Zionis Israel, Senin (23/3/2026) melalui pernyataan terbuka yang disampaikan oleh Netanyahu, mengatakan akan tetap melanjutkan peperangannya terhadap Iran, maupun di Lebanon. Netanyahu yang sudah ditetapkan sebagai penjahat perang dan pelaku genosida oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) itu mengatakan, kepentingan Israel dalam peperangan kali ini harus di atas segala-segalanya. “Kita akan tetapi melindungi kepentingan kita dalam segala keadaan,” kata Netanyahu.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita