Dua Tahun Tak Ada Kabar, Keluarga Syok TKI asal Indramayu Ditemukan Tewas Dekat Tempat Sampah di Saudi

Dua Tahun Tak Ada Kabar, Keluarga Syok TKI asal Indramayu Ditemukan Tewas Dekat Tempat Sampah di Saudi

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Dua Tahun Tak Ada Kabar, Keluarga Syok TKI asal Indramayu Ditemukan Tewas Dekat Tempat Sampah di Saudi

GELORA.CO
- Nasib nahas menimpa seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Nur Watirih (49), warga Blok Bedug, Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Setelah hilang kontak selama dua tahun, Watirih dilaporkan tewas di Arab Saudi dengan kondisi jenazah ditemukan di samping tempat sampah depan apartemen tempatnya bekerja.

"Sudah dua tahun enggak ada kabar, sampai akhirnya dikabarin sama saudara yang juga kerja di sana kakak saya meninggal dunia," kata Maghfuroh (29), adik korban, saat ditemui di rumah duka, Minggu (8/3/2026).

Maghfuroh menuturkan, Watirih awalnya berangkat mengadu nasib ke Arab Saudi pada awal 2022 melalui jalur unprosedural atau ilegal.

Pada tahun pertama, komunikasi masih berjalan lancar dan korban sempat mengirimkan uang sebanyak tiga kali untuk orangtua serta anak semata temata wayangnya yang kini berusia 11 tahun.

Namun, setelah itu nomor kontak dan akun media sosial korban tidak aktif hingga komunikasi terputus total selama dua tahun.

Kondisi Jenazah Mengenaskan dan Dugaan Penganiayaan


Keluarga baru menerima kabar duka pada 15 Februari 2026 dari kerabat di Arab Saudi yang kemudian dikonfirmasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh.

Berdasarkan keterangan yang diterima keluarga, Watirih meninggal dunia pada 9 Februari 2026 dengan luka tusuk dan sayatan benda tajam di tubuhnya.

Wajah korban bahkan disebut sulit dikenali akibat penganiayaan berat.

"Tapi saat saya minta foto almarhumah, enggak dikasih katanya haram enggak boleh, tapi dikasih tahu lukanya itu parah," ujar Maghfuroh.

Pelaku dikabarkan telah ditangkap oleh otoritas Arab Saudi dan saat ini kasusnya masih dalam investigasi mendalam oleh pihak kepolisian setempat.

Pihak KBRI juga terus menjalin komunikasi dengan keluarga untuk menyampaikan perkembangan kasus tersebut.

Atas kejadian keji ini, keluarga menuntut keadilan agar pelaku dijatuhi hukuman qisas atau hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

Meskipun mengaku ikhlas dengan kepergian korban, keluarga tidak bisa menerima tindakan penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa Watirih.

"Kami sekeluarga ikhlas kalau memang sudah takdir meninggal di sana. Tapi kami tidak ikhlas kalau memang ada motif lain, apalagi sampai dianiaya," tegas Maghfuroh.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Indramayu, Asep Kurniawan menerangkan belum mendapat laporan resmi terkait kasus yang menimpa Nur Watirih.

Meski demikian, Disnaker Indramayu menegaskan bahwa berangkat ke luar negeri secara unprosedural atau ilegal memiliki risiko tinggi.

Mereka diberangkatkan tanpa adanya pelatihan, perlindungan kerja, serta identitasnya yang tidak tercatat oleh negara.

Kasus tragis yang menimpa Nur Watirih pun menjadi pengingat keras akan minimnya perlindungan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) berstatus unprosedural.

“Karena ini pengiriman ke Timur Tengah, otomatis almarhumah dikirimkan secara unprosedural. PMI berstatus ilegal ini perlindungannya terbatas,” kata Asep.

Untuk itu, pemerintah daerah selalu mengimbau agar calon PMI yang mau bekerja ke luar negeri untuk menempuh jalur resmi sesuai prosedur yang berlaku.

Asep juga berharap kasus yang menimpa Watirih bisa diusut tuntas oleh pihak kepolisian di Arab Saudi guna memberikan kelegaan bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Sekali lagi kami mengimbau agar calon PMI untuk menempuh jalur resmi. Sehingga negara juga bisa langsung hadir apabila PMI mendapat permasalahan di luar negeri,” tutup Asep.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita