GELORA.CO - -- Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase baru ketika negara-negara Teluk mendesak Amerika Serikat untuk tidak setengah hati menghadapi Iran, di tengah krisis yang semakin dalam di Selat Hormuz.
Sumber-sumber diplomatik mengungkapkan bahwa meski awalnya tidak mendorong perang, kini banyak negara Teluk menginginkan langkah tegas untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran.
Mereka khawatir, jika dibiarkan, Teheran akan terus mengancam jalur vital distribusi energi dunia.
Dari Sekutu Jadi Ancaman
Perubahan sikap ini dipicu serangkaian serangan yang menyasar wilayah Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan fasilitas strategis seperti Bandara Internasional Dubai.
Abdulaziz Sager dari Gulf Research Center menyebut ada pergeseran besar dalam pandangan kawasan.
“Awalnya kami menolak perang, tetapi setelah serangan diarahkan ke kami, Iran kini dianggap sebagai musuh,” ujarnya.
"Tidak ada cara lain untuk mengklasifikasikan mereka," katanya.
Kekhawatiran utama adalah potensi Iran mempertahankan kemampuan ofensifnya, yang dinilai bisa digunakan untuk “menyandera” stabilitas ekonomi kawasan, terutama pasokan minyak global.
“Ada perasaan luas di seluruh Teluk bahwa Iran telah melanggar setiap batas merah dengan setiap negara Teluk,” kata Abdulaziz Sager,
Tekanan Balik dari Washington
Di sisi lain, Washington juga dilaporkan menekan negara-negara Teluk untuk ikut terlibat dalam operasi militer bersama Israel.
Presiden Donald Trump disebut ingin menunjukkan dukungan regional guna memperkuat legitimasi internasional sekaligus dukungan domestik terhadap operasi militer tersebut.
Namun, dilema muncul.
Jika ikut terlibat berarti memperbesar risiko serangan balasan, sementara tidak bertindak dianggap membuka celah ancaman jangka panjang dari Iran.
Hidup di Bawah Bayang Ancaman
Memasuki pekan ketiga konflik, serangan udara intensif dari AS dan Israel dibalas Iran dengan serangan ke pangkalan militer dan target sipil di kawasan Teluk.
Seorang sumber Teluk menggambarkan suasana yang berkembang di kalangan pemimpin regional.
Di mana pilihan yang tersisa hanyalah antara menghadapi ancaman sekarang atau hidup dalam ketidakpastian berkepanjangan.
Bagi warga sipil, ketegangan ini bukan sekadar geopolitik.
Ancaman terhadap bandara, pelabuhan, dan fasilitas energi berarti gangguan kehidupan sehari-hari—dari penerbangan yang tertunda hingga kekhawatiran akan stabilitas ekonomi.
Terbaru, serangan paling intens menyasar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad, sementara infrastruktur minyak dan transportasi di UEA terus digempur ratusan rudal dan drone.
Di Baghdad, kawasan Zona Hijau yang sangat dijaga ketat menjadi saksi bisu serangan udara yang disebut sebagai yang "paling intens" sejak konflik dimulai.
Sebuah sumber keamanan melaporkan bahwa tiga drone dan empat roket diarahkan ke Kedutaan Besar AS, dengan satu unit drone berhasil menerjang masuk ke dalam kompleks diplomatik tersebut.
Ekonomi dan Mobilitas UEA Lumpuh Sejenak
Sementara itu, Uni Emirat Arab menghadapi tekanan militer luar biasa dari Iran.
Lebih dari 1.900 rudal dan drone dilaporkan telah diluncurkan ke wilayah UEA sejak perang pecah.
Serangan ini secara spesifik menargetkan urat nadi ekonomi, termasuk pelabuhan minyak Fujairah dan wilayah sekitar Bandara Internasional Dubai.
"Otoritas Penerbangan Sipil UEA sempat menutup ruang udara nasional demi keamanan sebelum akhirnya dibuka kembali pagi ini," lapor koresponden BBC di lapangan.
Dampak serangan ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memicu kekhawatiran jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi negara yang selama ini dikenal sebagai pusat kemakmuran dan keamanan di Teluk
Sumber: Wartakota
